Monday, March 21, 2016
Saturday, March 19, 2016
Apakabar Kebebasan Akademik di Universitas Hari Ini?
(NOTULENSI DISKUSI SELARAS, Kementerian Kajian dan Strategis, LEM FIB UGM 2016)
Oleh:
Bung Willy Alfarius (Biro Pers Komisariat GMNI FIB UGM)
“Ivory Tower on Dirt: The Practice of Academic Freedom in Indonesian Universities Before and After 1965”
- Mengenai sejarah UGM ada banyak buku yang sudah ditulis, namun ada dua buku yang dapat disebut cukup baik dari segi kejujuran: 1. Buku yang ditulis dari tim jurusan Sejarah UGM. 2. Buku yang diterbitkan oleh LP3ES.
- Riset mengenai UGM dan 1965 masih berjalan. Tidak perlu heboh dengan diskusi seperti ini. Kenyataannya masih susah mengadakan diskusi 1965 di kampus UGM. Beberapa waktu lalu diskusi mengenai International People’s Tribunal (IPT) 1965 yang rencananya akan digelar di salah satu jurusan di FIB UGM mendadak dibatalkan karena perintah dari universitas. Dimana letak ‘academic freedom’ di kampus ini?
- Kebebasan akademik menjadi esensi dari universitas. Seperti dituliskan oleh Jasper (1946), Dewey (1984), dan AAUP’s 1915 Declaration bahwa riset, pengajaran, dan pernyataan sikap merupakan suatu kebebasan akademik yang harus ada di universitas. Kampus menjadi tempat bertukar pikiran yang bebas dari nilai agama dsb. serta tidak memandang latar belakang suku, agama, ras, bangsa, ideologi dll. Kalau sudah tidak ada kebebasan akademik seperti sekarang apakah masih layak disebut sebagai universitas?
- Pasca 1965 universitas di Indonesia kehilangan kebebasan akademiknya. Tahun 1965 menjadi sebuah enigma politik, dibiarkan menjadi misteri begitu saja. Pada akhirnya peristiwa ini (G30S dan lanjutannya) berpengaruh di semua aspek kehidupan, termasuk kalangan intelektual.
- Statistik menyebutkan bahwa tahun 1960an jumlah mahasiswa di Indonesia ada 278.000. Merekalah elite-elite baru di negeri ini. Jumlah perguruan tinggi juga naik. Perguruan Tinggi Negeri dari berjumlah 8 (1959) menjadi 39 (1963). Perguruan Tinggi Swasta dari 112 (1961) menjadi 228 (1965). Akademi juga meningkat dari 55 menjadi 88.
- Banyak perguruan tinggi di Indonesia menerima donor/bantuan dari blok Barat maupun blok Timur, yang saat itu sedang gencar-gencarnya dalam suasana ‘perang dingin.’ Blok Barat banyak memberi bantuan dalam bidang teknik (di ITB), pertanian (di UI cabang Bogor, sekarang IPB), medis dan pedagogi. Sedangkan blok Timur menyumbang dalam sains, teknik (di UGM, reaktor nuklir pertama di Indonesia), dan humaniora. Secara umum blok Timur kalah ‘start’ dari blok Barat mengenai donor ke kampus-kampus di Indonesia.
- Kampus sendiri menjadi ajang pertarungan politik di tingkat nasional. Di UGM, Dewan Mahasiswa (Dema) dan Komisariat Dewan Mahasiswa (Kodema, tingkat fakultas) menjadi ajang pertarungan antar organ ekstra mahasiswa baik yang berbasis agama (HMI, PMII, PMKRI, GMKI, IMM, dsb.) dan sekuler (GMNI, CGMI, Germindo, Perhimi, IPPI, dsb.). Sampai 1957 kehidupan kampus masih berjalan wajar, namun setelah itu sejak berlakunya Demokrasi Terpimpin maka kampus menjadi cukup tegang dengan sistem belajar yang juga terpimpin. Kampus menjadi tempat ampuh kampanye Manipol-USDEK gagasan Presiden Sukarno dan pada akhirnya kampus memang terpolitisasi. Selain itu di tahun 1960an politik nasional memanas dengan berbagai wacana seperti politik Nasakom (Nasionalis, Agama, Komunis), Ganyang Malaysia, rebut Irian Barat, dll.
- Saat itu PKI menjadi partai yang cukup besar dengan massa 3 juta anggota. Mereka muncul menjadi kekuatan baru. Namun pasca peristiwa G30S mereka dihabisi. Tak terkecuali di kampus, semua orang yang dituduh memiliki kedekatan dengan PKI maupun menjadi anggota organisasi onderbouwnya ditangkapi. Semua mahasiswa anggota CGMI dan Perhimi diberhentikan dari kampus. 16 lembaga yang berafiliasi dengan PKI ikut dibekukan dan ditangkapi anggota termasuk HSI (dosen dan akademisi) dan juga serikat-serikat pegawai. 15 Oktober 1965 menjadi awal dimulainya screening yang terjadi di UGM. Tak hanya yang berhubungan dengan PKI, simpatisan Presiden Sukarno (para anggota GMNI) pun beberapa ada yang ditangkapi.
- Hasilnya di UGM 3006 mahasiswa dipecat. 115 dosen + 1212 karyawan diberhentikan. Screening dilembagakan dan dipimpin oleh rektor. Jumlah ini diumumkan pada Januari 1966. Mayoritas mahasiswa yang dipecat berasal dari fakultas Teknik, Sospol, dan Kedokteran. Proses screening secara lembaga masih terus berjalan hingga 1987. Tidak semua kampus membuka data soal pemecatan mahasiswa dan dosen/pegawai ini. Data harus dicari di ANRI, arsip KOTI, Antara, dsb. UI tidak memberikan data resmi, namun ada satu laporan dari GMNI Jakarta bahwaada 1000 mahasiswa UI-Jakarta dan 700 mahasiswa UI-Bogor diskors.
- Dampak jangka panjang dari peristiwa ini adalah hilangnya satu generasi intelektual Indonesia (era 1950an) yang kosmopolitan, yang mempelajari segala ilmu, baik dari Barat (liberal) maupun Timur (sosialis). Pemikiran kiri menjadi hilang dari kampus, yang sejatinya bisa untuk menganalisis kelas. Contohnya juga teori konflik juga tidak diajarkan lagi karena Negara menginginkan yang damai-damai saja demi menyokong slogan ‘pembangunan’ buatan Orde Baru. Budaya kritis dan diskusi mahasiswa menjadi hilang, mahasiswa cenderung hura-hura dengan slogannya ‘pesta dan cinta.’ Kampus menjadi sangat market-oriented. Pada akhirnya minat riset seputar peristiwa 1965 menjadi nihil, tidak ada riset mengenai isu agraria dan perburuhan karena adanya sensor dari dalam kampus sendiri.
Willy Alfarius – Mahasiswa Ilmu Sejarah 2014, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada.
Friday, March 18, 2016
WELCOME, KOMISARIAT GMNI FIB UGM!
MERDEKA!!!
Pada 12-13 Maret 2016, Komisariat GMNI Geografi UGM melaksanakan Musyawarah Anggota Komisariat (MAK) di Tegaltirto, Berbah, Sleman DIY.
Hasil MAK tersebut menetapkan perubahan nama menjadi Komisariat GMNI FIB UGM. Beberapa alasannya diantaranya ialah sebab tidak ada lagi kader dari Fakultas Geografi (hanya Bung Julio Hutabarat, Komisaris Demisioner), dan mayoritas kini berasal dari Fakultas Ilmu Budaya. Hal tersebut demi lancarnya kegiatan organisasi.
Terima kasih kepada:
- Bung Julio Hutabarat (Komisaris)
- Bung Jultri F.L. Tobing (Sekretaris)
- Sarinah Agustina Pane (Bendahara)
- Bung Julian P. Tambunan (Wakil Komisaris Bidang Pengembangan Organisasi)
- Bung Aslama Nanda Rizal (Wakil Komisaris Bidang Kaderisasi)
- Bung Willy Alfarius (Wakil Komisaris Bidang Media & Pers)
Atas kinerjanya selama setahun ini sebagai Badan Pengurus Harian Komisariat GMNI Geografi UGM 2015/2016.
Dan juga kami mengucapkan selamat terpilih dan mengemban amanah kepada:
- Bung Aslama Nanda Rizal (Komisaris)
- Bung Surya Hidayat (Sekretaris)
Juga kepada Badan Pengurus Harian yang baru saja terpilih berdasarkan Rapat Tim Formatur:
- Bung Naufan Silmi Lubis (Bendahara)
- Sarinah Chanassa N. Putri (Wakil Komisaris Bidang Pengembangan Organisasi)
- Bung Andi Muhammad (Wakil Komisaris Bidang Kaderisasi & Media)
- Bung Alem P. Arma (Wakil Komisaris Bidang Politik & Jaringan)
Untuk mengampu tugas selama setahun ke depan di Komisariat GMNI FIB UGM 2016/2017. Semoga amanah dan tetap semangat semuanya!
MERDEKA!!!
GMNI JAYA!!!
MARHAEN MENANG!!!
Monday, March 7, 2016
TUGAS UTAMA PEMUDA INDONESIA KINI: MENGEMBALIKAN TRISAKTI SEBAGAI PRINSIP BANGSA INDONESIA
Oleh:
Aslama
Nanda Rizal
(Wakil Komisaris Bidang Kaderisasi Komisariat GMNI Geografi UGM)
Trisakti
merupakan konsep membangun bangsa Indonesia yang dicetuskan oleh Soekarno pada
pidatonya tahun 1963. Trisakti yang berarti tiga kekuatan (sakti) berisi:
Berdaulat di bidang politik, Berdikari (Berdiri di Atas Kaki Sendiri) di bidang
ekonomi, dan Berkepribadian dalam Kebudayaan. Trisakti prinsip dalam perjuangan
Indonesia melawan Imperialisme. Di bidang politik, Indonesia harus berdaulat
secara mutlak tanpa intervensi negara manapun. Indonesia tidak boleh berada di
bawah negara lain. Indonesia harus mutlak lepas dari Kolonialisme. Konsep
berdaulat di bidang politik tersebut juga berjalan seiring perjuangan merebut
Irian Barat dari Kolonialisme Belanda. Soekarno merasa Irian Barat adalah
bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia, yang saat itu masih menjadi
wilayah cengkeraman Belanda.
Setelah
Irian Barat berhasil masuk ke dalam Indonesia, konsep berdaulat di bidang
politik tetaplah relevan. Berdaulat di bidang politik berarti bangsa Indonesia
wajib mempertahankan kedaulatan negara, tidak boleh lepas ke tangan negara
lain. Hal tersebut menjadi riskan jika melihat fenomena lepasnya Sipadan dan
Ligitan yang jatuh ke tangan Malaysia. Hal tersebut tidak boleh terulang
kembali. Bangsa Indonesia harus mempertahankan kedaulatan negaranya. Lebih dari
itu, karena konteksnya adalah politik, jadi pembahasannya tidak hanya perihal
wilayah kedaulatan negara. Tapi juga jelas secara politik kenegaraan. Indonesia
adalah negara yang menganut politik luar negeri bebas aktif. Artinya, Indonesia
bebas bersahabat dengan seluruh bangsa dan negara di dunia dan aktif dalam
perjuangan perdamaian dunia. Dalam sikap politik kenegaraan, Indonesia tidak
boleh diintervensi oleh negara lain. Indonesia harus menentukan sikap
politiknya sendiri yang sesuai dengan prinsip bebas aktif tersebut.
Di
bidang ekonomi, Soekarno mengamanatkan bangsa Indonesia agar Berdikari, atau
berdiri di atas kaki sendiri. Indonesia tidak boleh menjadi bangsa dan negara
yang ketergantungan dengan asing. Konsep ini adalah arahan bagi bangsa
Indonesia agar mewujudkan sila ke-5 Pancasila, Keadilan Sosial bagi Seluruh
Rakyat Indonesia. Konsep ini dicetuskan dengan maksud yang jelas, melawan
Kapitalisme. Perekonomian Indonesia tidak boleh liberal, tidak boleh bertekuk
lutut pada para pemodal, para kapitalis. Perekonomian Indonesia haruslah
menganut kolektif-kolegial, sesuai pasa 33 UUD 1945, bahwa sumber daya alam
Indonesia haruslah dikuasai negara dan diperuntukkan sebesar-besarnya demi
kesejahteraan rakyat Indonesia. Tapi yang terjadi saat ini, kapitalisme
merajalela di Indonesia. Ekonomi Kerakyatan yang dicetuskan oleh para pendiri bangsa
(Soekarno, Hatta, Syahrir, dan lain-lain), pada dasarnya adalah konsep
Berdikari itu sendiri. Soekarno dengan Reformasi Agraria, Hatta dengan
Kooperasi, dan Syahrir dengan Sosialisme Pembangunan, pada hakikatnya adalah
untuk mewujudkan Berdikari di bidang ekonomi.
Terakhir,
adalah Berkepribadian dalam Kebudayaan. Soekarno mencetuskan konsep ini harus
dilihat konteksnya. Pada saat itu (1960-an), tengah berlangsung Perang Dingin
antara Blok Barat (Liberal-Kapitalis) melawan Blok Timur (Komunis). Indonesia
yang menganut politik bebas aktif, tidak memihak blok manapun. Malah Soekarno
mewakili Indonesia bersama para pemimpin bangsa dan negara lainnya yang
sepaham, membentuk gerakan sendiri yakni Gerakan Non Blok. Sebuah gerakan untuk
menengahi kedua blok. Negara-negara yang tergabung di dalamnya tidak memihak
blok manapun. Namun tetap satu perjuangan, melawan Kolonialisme dan
Imperialisme (yang utamanya ialah bangsa Barat). Soekarno tidak ingin Indonesia
jatuh ke tangan para kolonialis dan imperialis. Bangsa Barat yang terus
memperluas pengaruhnya (Kolonialisme dan Imperialisme), tidak hanya melakukan
ekspansi politik dan ekonomi, tapi juga di bidang kebudayaan. Budaya bangsa
Barat yang liberal masuk ke Indonesia sebagai dampak dari ekspansi tersebut
(westernisasi). Ekspansi kebudayaan tersebut adalah cara bangsa Barat
memperluas hegemoninya.
Soekarno
tidak ingin itu terjadi pada bangsa Indonesia. Maka pada saat itu, Soekarno
menetapkan suatu kebijakan larangan bangsa Indonesia untuk menikmati kebudayaan
Barat (seni, utamanya music sebagai yang paling mudah mempengaruhi manusia).
Soekarno melarang diputarnya lagu-lagu Barat, terutama yang sedang terkenal
saat itu, grup music The Beatles.
Soekarno menginginkan bangsa Indonesia agar mencintai dan menggunakan kebudayaannya
sendiri, kebudayaan Indonesia. Budaya tersebut berdasarkan Pancasila. Sebab
Pancasila adalah budaya bangsa Indonesia. Budaya berketuhanan, budaya
berkemanusiaan, budaya persatuan, budaya musyawarah, dan budaya memperjuangkan
keadilan sosial, dapat diperas menjadi satu yakni gotong royong.
Kebudayaan
nasional bukan berarti menghilangkan identitas masyarakat sesuai tempatnya
berasal. Masyarakat Jawa tetaplah pertahankan budaya Jawanya. Sunda, Madura,
Minangkabau, Aceh, Batak, Melayu, Bali, Sasak, Bugis, Makassar, Dayak, Toraja,
Manado, Maluku, Flores, Papua, dan seluruh suku bangsa di Indonesia tetaplah
pertahankan budayanya masing-masing sebagai identitas asli masyarakat sesuai
daerah asalnya. Namun identitas kedaerahan tersebut janganlah sampai menjadi
sentiment primordial. Tapi justru dengan banyaknya kebudayaan tersebut haruslah
membuat rakyat Indonesia bersatu dalam prinsip Bhinneka Tunggal Ika sebagai
bangsa yang majemuk namun menjunjung tinggi persatuan Indonesia. Sebab seluruh
kebudayaan yang ada di Indonesia memiliki satu benang merah yang sama, yakni
budaya gotong royong. Hal tersebut menjadi landasan sebagai kebudayaan bangsa
Indonesia.
Berkepribadian
dalam Kebudayaan. Hal tersebut sudah jelas. Bahwa dalam kebudayaan, bangsa
Indonesia haruslah memiliki kepribadian, yakni kepribadian bangsa Indonesia,
Nasionalisme Indonesia yang mempersatukan seluruh elemen kebudayaan tersebut.
Nasionalisme Indonesia adalah prinsip dari persatuan kebudayaan Indonesia.
Nasionalisme Indonesia haruslah menjadi pemersatu, bukan pemecah. Soekarno
mengatakan (mengutip dari Gandhi), My
Nationalism is Humanity. Nasionalisme Indonesia haruslah yang berjiwa
kemanusiaan. Bukan untuk menindas suku ataupun bangsa lain. Bukan untuk menjadi
bangsa perusak. Bukan sekadar sebagai kebanggaan yang terlalu kuat seperti
Jerman di masa lalu dengan Nazisme maupun Italia dan Jepang dengan Fasismenya.
Termasuk bangsa Barat dengan Kolonialisme dan Imperialismenya. Merasa bangsa
bahkan ras paling unggul, lalu menghancurkan bangsa lain demi menguasai dunia.
Bukan seperti itu yang diinginkan para pendiri bangsa Indonesia. Maka dari itu,
Soekarno mencetuskan konsep Berkepribadian dalam Kebudayaan.
Jika
melihat konteks saat ini, rasanya prihatin. Sebab berkepribadian dalam
kebudayaan telah luntur dari bangsa Indonesia. Masyarakat kini terjerumus dalam
Individualisme. Gotong royong kian ditinggalkan, seiring dengan westernisasi
yang semakin mencengkeram bangsa Indonesia dengan dalih modernisasi dan
globalisasi. Kemajuan adalah hal yang diinginkan, modernisasi dan globalisasi
adalah suatu hal yang tidak dapat dihindarkan di zaman sekarang. Namun
westernisasi terbawa dengan modernisasi dan globalisasi tersebut, bangsa
Indonesia tidak mampu menyaringnya dengan baik. Sehingga lunturlah westernisasi
dalam modernisasi dan globalisasi.
Modernisasi
dan globalisasi sebenarnya positif, namun westernisasi membawa pengaruh
negatif. Padahal pada 1960-an, Soekarno telah mewanti-wanti hal tersebut bahkan
dengan kebijakan yang sangat tegas dan ekstrim, melarang hal apapun yang berbau
bangsa Barat masuk ke Indonesia. Namun sejak Orde Baru berkuasa, apalagi
setelah Reformasi 1998, mengubah hal tersebut. Pasca Reformasi 1998, Indonesia
semakin jatuh ke dalam Liberalisme dengan westernisasi dengan dalih modernisasi
dan globalisasi. Tanpa terasa, Indonesia dicengkeram Imperialisme. Tidak lagi
secara fisik, namun secara halus, di bidang ekonomi, sosial, dan budaya.
Dampak
dari hal tersebut adalah Individualisme, lunturnya gotong royong. Masyarakat
Indonesia kebanyakan saat ini sibuk mengurusi dirinya sendiri, saling sikut
sana-sini, saling menindas, kriminal dimana-mana karena faktor ekonomi. Hal
tersebut terjadi juga di kalangan pemuda, khususnya mahasiswa. Saat ini,
mahasiswa semakin menjauh dari akarnya, yakni rakyat. Padahal mahasiswa adalah
penyambung lidah rakyat kepada pemerintah. Mahasiswa kini terjebak dalam sistem
pendidikan Indonesia yang dicengkeram Kapitalisme. Pendidikan tidak lagi untuk
mencerdaskan kehidupan bangsa, namun untuk mencetak pegawai-pegawai baru yang
sesuai dengan kebutuhan pasar. Pendidikan takluk oleh kepentingan pemodal
(kapitalis). Sistem pendidikan Indonesia utamanya di Perguruan Tinggi membuat
mahasiswa Indonesia saat ini menjadi semakin individualis. Sibuk kuliah dan
penelitian semata demi tuntutan akademik. Hal tersebut membuat banyak mahasiswa
menjadi apatis, kurang peduli dengan permasalahan rakyat.
Hal
tersebut juga bisa dilepaskan dari semakin majunya teknologi. Satu sisi,
kemajuan teknologi sangat baik demi kemajuan masyarakat. Tapi di sisi lain,
majunya teknologi memberi dampak Individualisme tersebut. Terutama sejak
semakin canggihnya gadget. Kini,
bahkan banyak anak kecil pun sudah memegang gadget
sendiri. Satu sisi, gadget sangat
baik demi memudahkan informasi dan pekerjaan. Tapi di sisi lain, gadget membuat orang menjadi malas.
Dampak dari gadget ialah menguatnya
Indvidualisme, apatis, dan lunturnya gotong royong, dan mendistorsi kebiasaan
kumpul bareng atau srawung. Bahkan
menjadi fenomena saat ini, jika sedang berkumpul, justru malah sibuk dengan gadget masing-masing.
Semua
itu adalah dampak hilangnya konsep Trisakti dari bangsa Indonesia, khususnya
Berkepribadian dalam Kebudayaan. Hal tersebut adalah tantangan zaman yang harus
diselesaikan bangsa Indonesia. Trisakti itu menembus zaman. Trisakti masih
sangat relevan hingga kapanpun. Oleh sebab itu, perlunya kita menggaungkan
kembali Trisakti sebagai prinsip bangsa Indonesia. Mulai saat ini hingga anak
cucu kelak, bangsa Indonesia harus kembali pada Trisakti. Tapi suatu tantangan
tersendiri bagi kita agar Trisakti bisa kembali menjadi populer dan menjadi
prinsip bangsa Indonesia. Implementasi dari Trisakti pada saat ini sangat
berat, tapi bukan tidak mungkin. Sebab Soekarno telah memberikan pondasi bagi
bangsa Indonesia, Trisakti tersebut. Tinggal kita sebagai penerusnya harus
mengimplementasikan kembali Trisakti yang kini terlupakan. Modernisasi,
globalisasi, kemajuan teknologi, dan gadget
seharusnya bukan menjadi alasan lunturnya kepribadian bangsa Indonesia. Justru
kemajuan teknologi, mudahnya akses informasi, harus dimanfaatkan secara
positif, utamanya untuk mempopulerkan kembali Trisakti. Hal tersebut adalah
tugas pemuda Indonesia saat ini: mengembalikan Trisakti sebagai prinsip bangsa
Indonesia
Friday, October 16, 2015
JOKOWI, ORDE BARU, DAN MARHAEN INDONESIA
Oleh:
ASLAMA
NANDA RIZAL
MAHASISWA
JURUSAN SEJARAH UGM
KEMENTERIAN
AKSI & PROPAGANDA BEM KM UGM
WAKIL
KOMISARIS BIDANG KADERISASI KOMISARIAT GMNI GEOGRAFI UGM
(Materi Pada Diskusi Publik Bersama KAMMI UGM dan HTI Yogyakarta, Jumat 16 Oktober 2015)
20
Oktober 2015 nanti tepat satu tahun pemerintahan Joko Widodo dan Jusuf Kalla.
Walaupun baru setahun menjabat, namun pemerintahan kali ini carut marut. Dalam
setahun, terjadi banyak kasus baik dalam skala elit maupun akar rumput di
Indonesia. Kurang lebih sebulan setelah Joko Widodo dan Jusuf Kalla (Jokowi-JK)
dilantik sebagai Presiden dan Wakil Presiden RI, pemerintah menaikkan harga
Bahan Bakar Minyak (BBM). Hal tersebut langsung dimaknai negatif oleh
kebanyakan masyarakat kita. Dalam tataran elit, kasus pemilihan Kepala Polisi
RI (KAPOLRI). Melibatkan Budi Gunawan yang dianggap korupsi karena kasus
rekening gendut, kriminalisasi pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK),
hingga yang terbaru mengenai revisi Undang-undang yang bertujuan untuk
mengkebiri kekuatan KPK yang dilakukan oleh DPR – RI. Menurut saya, tidak hanya
eksekutif, namun juga Legislatif atau Parlemen Indonesia juga keblinger.
Dalam
tataran akar rumput, rakyat Indonesia terutama golongan bawah, yang oleh Bung
Karno dinamakan kaum MARHAEN, semakin menderita. Baru-baru ini, Presiden Jokowi
merilis paket kebijakan ekonomi tahap II. Isinya adalah memudahkan
pembukaankeran investasi sebesar-besarnya bagi para pemodal yang berbisnis di
Indonesia. Hal tersebut semakin melanggengkan Kapitalisme dan menyengsarakan
kaum Marhaen. Sumber daya alam Indonesia semakin dikeruk untuk kepentingan
perut pemodal. Bung Karno pernah berkata bahwa Kapitalisme itu bukan suatu
bangsa. Kapitalis bukan hanya bangsa asing. Bukan hanya Amerika, Inggris,
Jepang, Belanda, dan lain-lain. Tapi juga Kapitalis bangsa sendiri. Kapitalisme
bukan soal suku, agama, ras, maupun aliran kepercayaan. Tapi Kapitalisme adalah
suatu sistem ekonomi, yang menindas. Sangat menindas. Bahkan sangat Jahannam.
Berikutnya,
kasus yang masih langgeng seperti kisah cinta Habibie dan Ainun. Ya, PT. Freeport
Indonesia di tanah Papua. Sejak 1967, Freeport Berjaya mengeruk emas di “Rumah
Cendrawasih”. Kepingan surge, Papua. Bahkan, kini kontraknya diperpanjang
hingga 2041. Maka, sangat wajar jika gerakan Papua Barat Merdeka atau yang
dikenal sebagai Organisasi Papua Merdeka (OPM) menguat di sana. Hal tersebut
adalah dampak dari pemerintah Indonesia yang mengizinkan Papua dieksploitasi
secara sangat berlebihan. Bahkan, jika dilihat dari atas, tanah Papua kini
cekung sangat dalam ke bawah. Sebab tambangnya dikeruk sudah hampir 50 tahun.
Selanjutnya,
kasus pembangunan pabrik Semen oleh PT. Semen Indonesia di Kendeng Utara,
Rembang. Lalu kasus pembangunan Bandara Kulon Progo Yogyakarta, pendirian
tambang dan kebrutalan yang dilakukan TNI – AD di Urut Sewu, Kebumen. Juga yang
baru-baru terekspos media dengan sangat masif, kasus pembunuhan secara biadab
terhadap Salim Kancil akibat menentang pendirian pembangunan tambang di
Lumajang. Jika ditelusuri, tidak heran bahwa saya menyimpulkan. Bahwa
Kapitalisme bercokol akibat “Cinta Segi Empat” antara Kapitalis, Pemerintah,
Akademisi, dan Aparat Negara (TNI, POLRI, dan Satpol PP). Mereka semua
bekerjasama, saling bercinta, untuk kepentingan mereka dan menindas rakyat. Ya.
lagi-lagi Marhaen jadi korban. Dan terakhir (yang terekspos media), adalah
kasus asap di Sumatera dan Kalimantan. Hal tersebut adalah ulah para Kapitalis,
yang seperti saya jelaskan sebetulnya. Didukung oleh Pemerintah, Akademisi, dan
Aparat Negara. Hal tersebut membuat kita bertanya, siapa yang salah? Jelas.
Pemerintah Jokowi-JK mewarisi pemerintahan sebelumnya, SBY-Boediono. Namun
kini, seluruh tanggung jawab tersebut dipikul Jokowi –JK. Dan seluruhnya jika
ditelusuri, adalah warisan dari rezim Diktator Orde Baru.
DOSA BESAR ORDE BARU
Orde
Baru adalah biang keladi dari perusakan Indonesia. Dengan dalih, Anti-Komunisme
dan dalih semangat pembangunan ekonomi, Orde Baru membuka keran investor
selebar-lebarnya. Orde Baru adalah kaki tangan Kapitalis dan Imperialis Barat.
Para jajaran militer saat itu kebanyakan alumni pendidikan Barat. Sangat wajar,
mereka menjadi agen Barat. Padahal sebelumnya, Bung Karno telah mengkonsep
perekonomian Indonesia dengan baik. Walaupun banyak kritik terhadap ekonomi
Indonesia yang carut marut. Hal tersebut tidak mengapa menurut saya. Sebab,
Bung Karno hanya 6 tahun menjabat sebagai Kepala Pemerintahan. sejak 1959
hingga 1965. Sejak 1945 hingga 1959, Indonesia menerapkan sistem Demokrasi
Liberal / Parlementer. Bung Karno hanya menjadi Kepala Negara. Bung Karno
akhirnya geram dengan sistem tersebut yang dianggap terlalu politis dan
mementingkan kepentingan masing-masing partai politik. Bung Karno membubarkan
sistem tersebut dan menggantikannya dengan Demokrasi Terpimpin. Pada masa itu,
Bung Karno mengkonsep banyak gagasan untuk kemajuan rakyat Indonesia. Bahkan
Bung Karno membuat Garis Besar Haluan Negara (GBHN), yakni Manifesto Politik /
UU 1945, Sosialisme Indonesia, Demokrasi Terpimpin, Ekonomi Terpimpin, dan
Kebudayaan Nasional (MANIPOL / USDEK). Namun sayang, belum sempat terealisasi,
Bung Karno dikudeta oleh Suharto dan kawan-kawan gerombolan yang menamakan diri
mereka sebagai Orde Baru.
Di
masa Orde Baru, kritik terhadap pemerintah atas nama Tuhan dicap “Ekstrim
Kanan, DI / TII”. Kritik terhadap pemerintah atas nama rakyat kecil dicap
“Ekstrim Kiri, Komunis, PKI”. Aktivitas mahasiswa juga dikebiri dengan
diberlakukannya Normalisasi Kebijakan Kampus / Badan Keamanan Kampus (NKK /
BKK). Hal tersebut membuat aktivis pergerakan tidak berkutik sebab jika
tertangkap akan dikenakan pasal subversive dan mengganggu stabilitas nasional.
Hal tersebut membuat langgengnya Kapitalisme pada masa Orde Baru. Saya
menganggapnya, Kapitalisme Terpusat. Sebab, perekonomian Indonesia harus lewat
keluarga Cendana, keluarga Suharto. Di masa Orde Baru itulah, mindset investasi menghinggapi otak
rakyat Indonesia hingga kini. Investasi dan penanaman modal dianggap sebagai
cara instan untuk melakukan pembangunan. Indonesia juga menjadi “kacung” IMF
& World Bank hingga kini dan sulit lepas dari jeratannya. Hal tersebut
adalah efek dari 32 tahun Orde Baru berkuasa.
APA YANG BISA DILAKUKAN MAHASISWA?
Itu menjadi pertanyaan konkrit yang
sering dilontarkan banyak pihak. Apa yang bisa dilakukan mahasiswa? Apakah
demonstrasi masih relevan? Apakah pergerakan mahasiswa masih berguna? Dan
lain-lain. Berbagai pertanyaan tersebut sejatinya adalah peremehan terhadap
kita, mahasiswa yang masih bergerak demi perbaikan bangsa. Saya anggap, aktivis
pergerakan mahasiswa kini adalah “spesies langka”. Begitu sulitnya jaman ini.
Sebab, Kapitalisme tidak sesederhana yang kita pikirkan. Kapitalisme berkembang
dengan baik dan cepat sebab telah mengalami berbagai trial and error. Kapitalisme dulu adalah Kapitalisme Klasik, dan
kini menjadi Kapitalisme Tingkat Lanjut. Dengan berbagai cara Kapitalisme
dibungkus. Bahkan atas nama agama. Bank Syariah misalkan, mengatasnamakan
agama. Mengatasnamakan Islam. Padahal sejatinya hanya kepanjangan tangan dari
Kapitalisme.
Begini, saudara-saudara sekalian.
Kita terdiri dari beragam suku, agama, ras, aliran kepercayaan, ideologi, dan
organisasi. Marilah kita hilangkan sentiment perbedaan tersebut. Marilah kita
bersatu dalam dasar negara Pancasila untuk bergerak bersama secara Gotong
Royong. Jangan memperdebatkan masalah konsep negara, karena kami dari GMNI
tidak akan pernah sepaham dengan kawan-kawan dari HTI perihal negara. Kami
tetap memegang teguh Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan Pancasila
sebagai Dasar Negara sampai tetes darah penghabisan hingga nyawa melayang.
Kawan-kawan HTI pun demikian dengan konsep Khilafah Islamiyah versi mereka.
Saya hadir di sini bukan untuk memperdebatkan itu. Tapi lebih untuk menjalin
“ukhuwah” kebangsaan kita sebagai bangsa Indonesia.
Mungkin terlihat sangat sederhana
dan terkesan tidak memberi solusi. Namun marilah kita bertanya, apa yang kita
punya untuk menyelamatkan rakyat kecil, kaum Marhaen? Uang melimpah? Kekuasaan?
Tidak! Kita tidak punya semuanya. Yang kita punya hanyalah mulut untuk teriak
melawan penindasan. Dan jemari tangan yang Tuhan ciptakan untuk menulis,
mengetik, dan melakukan ini-itu untuk menyadarkan orang lain demi pembebasan
kaum Marhaen (jangan-jangan Marhaen itu ialah kita sendiri) dari belenggu
penjajahan halus jaman kini. Dan juga kaki untuk bergerak ke sana ke sini,
untuk menghadiri berbagai diskusi dan aksi pergerakan mahasiswa. Sebab,
pembuktian itu semua menurut saya bukan saat ini. Melainkan nanti, saat kita
telah menjadi “orang”. Saat kita telah bekerja, saat kita telah menjadi
pemerintah. Saat kita telah di atas, nurani akan mempertanyakan konsistensimu
dalam perjuangan. Pembuktian sesungguhnya adalah saat kita telah diberi
wewenang untuk itu.
Sebagai penutup, saya ingin
mengatakan bahwa jagalah Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan Pancasila
sebagai Dasar Negara kita. NEGARA INI TIDAK DIBUAT UNTUK MELINDUNGI MINORITAS,
BUKAN PULA UNTUK MELEGITIMASI MAYORITAS. TAPI NEGARA INI DIDIRIKAN “SEMUA UNTUK
SEMUA”. BUKAN UNTUK SATU GOLONGAN. BUKAN UNTUK SATU AGAMA. BUKAN UNTUK
MAYORITAS. BUKAN UNTUK DIA, BUKAN UNTUK MEREKA, BUKAN UNTUK KALIAN, BUKAN UNTUK
KAMU. BUKAN UNTUK AKU. TAPI UNTUK KITA. BUKAN UNTUK SIAPA-SIAPA TERSENDIRI,
TAPI.. SEMUA UNTUK SEMUA.
Saya
tutup celotehan saya ini dengan Surah Al-Ma’un ayat 1 sampai 3. Surah sebagai
salah satu dalil perjuangan membela si miskin, kaum Marhaen.
“Tahukah
Kamu (orang) yang MENDUSTAKAN AGAMA?. Itulah orang yang menghardik anak yatim.
DAN TIDAK MENGANJURKAN MEMBERI MAKAN ORANG MISKIN (TIDAK PRO MARHAEN, TIDAK PRO
RAKYAT KECIL, MENINDAS YANG LEMAH)”.
MERDEKA!!!
MARHAEN
MENANG!!!
Tuesday, September 29, 2015
PERGERAKAN MAHASISWA SEKITAR PERISTIWA GERAKAN SATU OKTOBER (GESTOK) 1965
Oleh:
ASLAMA
NANDA RIZAL
MAHASISWA
ILMU SEJARAH UGM
WAKIL
KOMISARIS BIDANG KADERISASI
KOMISARIAT
GERAKAN MAHASISWA NASIONAL INDONESIA (GMNI) GEOGRAFI UGM
Pengantar
Pergerakan
mahasiswa di Indonesia periode 1960-an sangat keras, dinamis, dialektis, dan
politis. Hal tersebut disebabkan oleh tingginya tensi perpolitikan dalam
negeri. Hal tersebut juga dipengaruhi oleh kondisi perpolitikan dunia yang juga
tengah terbagi menjadi dua kutub. Blok Barat dan Blok Timur. Walaupun
Indonesia, India, Mesir, dan lain-lain memprakarsai Gerakan Non–Blok yang
bertujuan menjadi blok sendiri tanpa bergabung dengan Blok Barat dan Blok
Timur, namun Gerakan Non–Blok tersebut lebih condong ke Blok Timur. Sentimen
anti-penjajahan, anti-kolonialisme dan anti-imperialisme negeri-negeri di Asia
dan Afrika membuat kecondongan tersebut.
Blok
Barat yang terdiri dari Amerika dan sekutunya menggencarkan paham kapitalisme
dan demokrasi liberalnya ke seluruh dunia. Sementara Blok Timur yang terdiri
dari Uni Soviet dan sekutunya melawan dengan menggencarkan paham
Marxisme/Leninisme ke seluruh dunia. Khususnya ke negeri-negeri yang menjadi
koloni negara Barat. Hal tersebut terjadi setelah Perang Dunia II yang dikenal
dengan sebutan Perang Dingin. Disebut demikian sebab kedua Blok tersebut tidak
berperang dengan mengangkat senjata, melainkan dengan menyebarkan pengaruh
ideologi. Dampak dari Perang Dingin tersebut membuat beberapa negeri terpecah
menjadi duna negara. Seperti Korea Selatan dan Korea Utara, Vietnam Utara dan
Vietnam Selatan, Yaman Selatan dan Yaman Selatan, pembentukan Federasi Malaya
yang kemudian menjadi Malaysia, dan lain-lain. Periode 1960-an menjadi klimaks
dari dampak Perang Dingin tersebut. Khususnya di Indonesia.
Perpolitikan
Indonesia periode 1960-an terkena dampak tersebut. Walaupun Pemerintah
Indonesia bersikap tidak masuk ke dalam kedua blok tersebut. Namun pengaruh
Perang Dingin sangat kuat mempengaruhi. Perpolitikan Indonesia masa tersebut bisa
dikerucutkan menjadi tiga kubu. ABRI (Angakatan Bersenjata Republik Indonesia)
Angkatan Darat (AD), Presiden Soekarno, dan PKI (Partai Komunis Indonesia).
Tanpa bermaksud mengkerdilkan peran partai politik maupun kelompok yang lain,
ketiga kubu tersebut yang paling kuat dalam perpolitikan nasional saat itu.
Bisa dibilang, di Indonesia sendiri terjadi juga Perang Dingin. ABRI-AD
dianggap menjadi representasi Blok Barat, PKI dianggap sebagai representasi
Blok Timur, dan Bung Karno sebagai penengah. Walaupun lebih condong ke Blok
Timur.
Kelompok-kelompok
yang membenci PKI dan yang tidak sepaham dengan komunisme merapat ke kubu
ABRI-AD. Terutama kelompok Agama. Kebencian terhadap komunisme terjadi sebab
komunisme dianggap sebagai atheisme. Ajaran yang tidak mengakui Tuhan.
Komunisme juga dianggap sebagai ajaran ekstrim yang mengajarkan kekerasan
hingga pembunuhan terhadap kelompok yang menentangnya. Sementara PKI menganggap
kelompok ABRI-AD sebagai kaki tangan Blok Barat, sebab banyak yang sekali yang
lulusan pendidikan Amerika dan Inggris. PKI menganggap ABRI-AD sebagai
antek-antek kapitalis. PKI juga menganggap kelompok Agama sebagai Tuan Tanah
dan pendukung Borjuasi Nasional. Secara politik, PKI menggandeng Presiden
Soekarno sebagai rekan politik untuk mempertahankan diri dari rongrongan
ABRI-AD dan kelompok lain yang menentangnya.
Dampak
Terhadap Pergerakan Mahasiswa
Hal
tersebut berdampak pada pergerakan mahasiswa. Saat itu sangat banyak gerakan mahasiswa,
intra dan ekstra kampus. Gerakan mahasiswa intra kampus seperti Dewan Mahasiswa
(DEMA) ataupun Senat Mahasiswa (SM). Gerakan mahasiswa ekstra kampus seperti
Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI),
Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI), Mahasiswa Pantjasila
(Mapantjas), Gerakan Mahasiswa Sosialis (Gemsos), Gerakan Mahasiswa Kristen
Indonesia (GMKI), Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Consentrasi
Gerakan Mahasiswa Indonesia (CGMI), Sekretariat Organisasi Mahasiswa Lokal
(SOMAL) dan lain-lain.
Gerakan
mahasiswa ekstra kampus tersebut pada masa itu beberapa menjadi onderbouw atau sayap dari partai
politik. Beberapa tidak, namun memiliki kedekatan emosional dan ideologis
terhadap partai politik. Seperti GMNI yang saat itu menjadi onderbouw PNI (Partai Nasional
Indonesia), CGMI yang berafiliasi dengan PKI (Partai Komunis Indonesia). PMII
yang berafiliasi dengan NU (Nadhlatul Ulama), dan lain-lain. Juga Gemsos yang
memiliki kedekatan emosional dan ideologis dengan PSI (Partai Sosialis
Indonesia), dan HMI yang memiliki kedekatan emosional dan ideologis dengan
Masyumi (Majlis Syuro Muslimin Indonesia). Kedua partai politik tersebut
dibubarkan pada 1960 oleh Presiden Soekarno sebab dianggap terlibat dalam
pemberontakan PRRI / PERMESTA.
Kedekatan
antara gerakan mahasiswa dengan partai politik membuat konflik antar gerakan
tersebut. HMI saat itu menjalin koalisi dengan gerakan-gerakan keagamaan
mahasiswa seperti PMKRI dan GMKI. Sementara gerakan mahasiswa yang beraliran
kiri menjalin koalisi seperti GMNI dan CGMI. Hal tersebut membuat sentiment
antar gerakan mahasiswa ekstra kampus sangat kuat masa itu. GMNI dan CGMI
sebagai gerakan mahasiswa yang beraliran kiri mengaku sebagai gerakan mahasiswa
yang progresif-revolusioner. Mereka menganggap HMI dan lain-lain sebagai musuh
revolusi atau kontra-revolusioner (kontrev).
Sementara HMI dan gerakan mahasiswa keagamaan menganggap GMNI dan CGMI sebagai
kaum sekuler dan komunis, bahkan ateis. Terutama terhadap CGMI. Sementara
sentimen terhadap GMNI lebih bersifat politis dibanding ideologis. Sentimen
terhadap GMNI terjadi sebab GMNI dianggap sebagai anak emas Presiden Soekarno
dan menjadi gerakan mahasiswa paling kuat di seluruh Indonesia saat itu.
Sementara gerakan mahasiswa intra kampus
seperti DEMA maupun SM ataupun kini Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) serta Dewan
Perwakilan Mahasiswa (DPM) menjadi tempat bertarungnya gerakan mahasiswa ekstra
kampus. Bahkan terjadi hingga kini. Sebab gerakan mahasiswa intra kampus di
dalamnya terdiri dari berbagai anggota gerakan mahasiswa ekstra kampus.
Terutama saat Pemilihan Raya atau Pemilihan Mahasiswa, antar gerakan mahasiswa
ekstra kampus saling berebut posisi di gerakan mahasiswa intra kampus.
Pergerakan Mahasiwa Pasca GESTOK
Setelah
terjadi peristiwa Gerakan 1 Oktober (Gestok)[1],
posisi GMNI dan CGMI menjadi terjepit. Terutama CGMI. Sebagai sayap PKI, CGMI
diserang oleh banyak gerakan mahasiswa dan organisasi kepemudaan lainnya. Dalam
buku Titik
Silang Jalan Kekuasaan Tahun 1966. Mitos dan Dilema: Mahasiswa Dalam Proses
Perubahan Politik 1959-1970 misalnya,
dijelaskan mengenai penyerangan terhadap CGMI (Rum Aly, 2006). CGMI
semakin terjepit setelah terjadi penyerangan besar-besaran terhadap orang-orang
yang dianggap PKI. Sementara GMNI semakin terjepit sebab semakin banyak yang
menyerang Presiden Soekarno, juga menyerang GMNI. Perpecahan internal juga
terjadi pada GMNI. Pecahnya PNI menjadi dua kubu yakni PNI Ali & Surachman
(PNI Ali – Surachman) serta PNI Osa Maliki & Usep (PNI Osa-Usep). Hal
tersebut berdampak pada GMNI yang pecah menjadi GMNI Ali – Surachman dan GMNI
Osa – Usep.
PNI
dan GMNI Ali – Surachman adalah kelompok yang setia terhadap Presiden Soekarno
dan gagasannya mengenai NASAKOM (Nasionalisme, Agama, Komunisme). Sementara PNI
dan GMNI Osa – Usep keluar dari barisan Presiden Soekarno sebab dianggap telah
menyimpang dan terlalu dekat dengan PKI. Kelompok ini juga mencabut gelar
“Bapak Marhaenisme” dari Presiden Soekarno. GMNI Osa – Usep yang dipimpin oleh
Suryadi ikut terlibat dalam kelahiran Orde Baru.
Setelah
peristiwa Gestok, beberapa gerakan mahasiswa seperti HMI, PMKRI, SOMAL, dan
PMII, mendesak agar PPMI (Perserikatan Perhimpunan Mahasiswa Indonesia) yang
merupakan wadah gerakan mahasiswa ekstra kampus di masa Presiden Soekarno –yang
didominasi GMNI Ali – Surachman, CGMI, Perhimi, dan Germindo- untuk mengadakan
kongres terkait sikap mereka perihal Gestok. PPMI merasa terdesak hingga
membuat Menteri PTIP (Perguruan Tinggi dan Ilmu Pengetahuan) saat itu, Sjarif
Thajeb turun tangan. Ia mengusulkan pertemuan pada 25 Oktober 1965 di rumahnya.
Namun pertemuan itu tidak dihadiri oleh gerakan mahasiswa beraliran kiri. Hanya
GMNI Ali - Surachman yang hadir. Pertemuan tersebut berlangsung alot. Para
pemimpin gerakan mahasiswa yang hadir pada saat itu sepakat untuk membentuk
wadah baru sebagai pengganti PPMI, yakni KAMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa
Indonesia), dengan program utama mengganyang PKI (Rum Aly, 2006).
Menteri
Sjarif Thajeb bersikukuh menolak penyudutan terhadap Presiden Soekarno. Namun
mereka menolak. Akhirnya di kemudian hari, terjadi seperti penyesalannya dari
Menteri Sjarif Thajeb sebab ia menjadi salah satu pelopor berdirinya KAMI yang
kemudian justru menyerang Presiden Soekarno. GMNI Ali – Surachman menyatakan
sikap keluar dari KAMI. Saat itulah, GMNI Osa – Usep masuk. Mereka memanfaatkan
momen tersebut. KAMI secara resmi dibentuk di Bandung, 1 November 1965. Selang
beberapa hari setelah KAMI Jakarta terbentuk. Pembentukkan KAMI terjadi di
Margasiswa PMKRI Jalan Merdeka 9, Bandung. Presidium KAMI terdiri dari HMI,
PMII, PMKRI, SOMAL, MAPANTJAS, dan IMM (Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah).
Organisasi mahasiswa intra kampus akhirnya mengikuti dengan membentuk KOMII
(Kesatuan Organisasi Mahasiswa Intra-Universiter Indonesia). Pembentukan KOMII
terjadi pada 24 November 1965. KOMII dipelopori oleh Dewan-dewan Mahasiswa
maupun Senat-senat Mahasiswa dari 20 perguruan tinggi se-Bandung. Ketua Umum
KOMII pertama adalah Rachmat Witoelar dari ITB.
Awalnya,
pergerakan KAMI dan KOMII terpisah. Hal tersebut sebab keduanya tidak mau
menyatu. Namun saat suasana perpolitikan dan ekonomi nasional yang semakin
tegang serta carut-marut, aksi-aksi mahasiswa semakin meningkat. Hal tersebut
menyebabkan awal bersatunya KAMI dan KOMII. Akhirnya disepakati dalam Presidium
KAMI terdiri dari 4 unsur ekstra dan 4 unsur ekstra kampus. Menyatunya unsur
intra dan ekstra kampus membuat aksi-aksi mahasiswa semakin tak terkendali.
Pada 10 Januari 1966 terjadilah aksi besar-besaran mahasiswa seluruh Indonesia
ke Jakarta. Aksi tersebut melahirkan tiga tuntutan yang dikenal sebagai TRITURA
(Tri Tuntutan Rakyat), yakni: Bubarkan PKI, Retool Kabinet Dwikora, dan
Turunkan harga-harga.
Setelah
peristiwa “TRITURA”, kondisi dalam negeri Indonesia semakin semrawut. Terutama
di kalangan mahasiswa. KAMI dan KOMII yang melakukan aksi besar-besaran
tersebut membuat kelompok yang membela Presiden Soekarno –bahkan Presiden
Soekarno sendiri pun- geram. Waperdam I Soebandrio kemudian mempelopori
dibentuknya Barisan Soekarno. Menanggapi hal tersebut, Presiden Soekarno
menyerukan untuk membentuk Barisan Soekarno. Pada 15 Februari 1966, Soebandrio
mendampingi Presiden Soekarno mengadakan pertemuan terbatas dengan para
pimpinan GMNI Ali – Suarchman, Germindo, MMI, dan Dewan Mahasiswa Universitas
Bung Karno di Istana Merdeka. Maka terbentuklah Barisan Soekarno.
Terbentuknya
Barisan Soekarno mendapat perlawanan dari KAMI. Terjadilah penyerangan kedua
kubu dimana-mana. Keduanya saling bentrok. Barisan Soekarno berupaya untuk
mempertahankan Presiden, sementara KAMI bersikukuh ingin menurunkan Soekarno
beserta jajarannya dari kursi kepemerintahan. Terjadilah bentrokan dimana-mana.
Bahkan jatuh korban jiwa. Salah satunya yang terkenal adalah Arief Rahman
Hakim. TRITURA tidak dikabulkan Presiden Soekarno. Malah pada 24 Februari 1966,
Presiden Soekarno melakukan reshuffle
kabinet dengan memasukkan unsur PKI. KAMI pun geram. Aksi mahasiswa
besar-besaran kembali terjadi. Aksi tersebut membuat kemacetan parah di
Jakarta. Para demosntran berhasil masuk ke Istana Negara. Pasukan Cakrabirawa
menghadang dan terjadilah penembakan terhadap Arief Rahman Hakim.
Pergerakan Mahasiswa Pasca
Lengsernya Soekarno
Setelah
Soekarno lengser, situasi politik di Indonesia menjadi agak tenang untuk
beberapa waktu. Naiknya Soeharto yang langsung mendengungkan pembangunan,
perlahan mengikis hiruk-pikuk politik. KAMI pun terkena dampaknya. Jauh-jauh
hari, Soe Hok Gie telah mewanti-wanti hal ini dan menyuruh KAMI untuk
instropeksi diri. Soe Hok Gie terkenal pada saat itu sebagai aktivis mahasiswa
yang kritis dalam tulisannya. KAMI perlahan tenggelam bersama tenggelamnya
rezim Soekarno. Pada 1966, aktivitas perkuliahan terhenti karena situasi
politik yang panas. Pada 1967, perkuliahan dimuali kembali. Sejak 1967 hingga
1970, suasana kehidupan kampus menjadi lebih tenang dan lancar. Hal tersebut
membuat semangat mahasiswa perlahan menurun. KAMI pun mulai ditinggalkan. KAMI
juga akhirnya disusupi kepentingan partai politik. Soe Hok Gie mengkritik keras
hal ini. Ia menyoroti hubungan partai politik terhadap KAMI.
Soe
Hok Gie menyoroti empat kelemahan KAMI. Yakni, secara struktural KAMI adalah
koalisi berbagai ormas, pimpinan KAMI tidak dipilih secara demokratis, KAMI
tidak memiliki ketegasan sebagai kekuatan moral ataupun politik, dan KAMI tidak
lagi dapat mencari isu yang menjadi milik bersama. Periode tersebut juga
menjadi titik awal meredupnya gerakan mahasiswa ekstra kampus. Bahkan bisa
dianggap hingga saat ini. Setelah 1970, terjadi apa yang disebut sebagai Back To Campus. Kegiatan dan minat
terhadap organisasi intra kampus lebih terasa dibandinh ekstra kampus. Hal
tersebut yang menjadi titik awal dari munculnya sekat antara intra dan ekstra
kampus. Bahkan hingga kini, intra kampus dianggap lebih bergengsi dibanding
ekstra kampus.
DAFTAR BACAAN
Rum
Aly, Titik Silang Jalan Kekuasaan Tahun
1966. Mitos dan Dilema: Mahasiswa Dalam Proses Perubahan Politik 1959-1970,
Jakarta: Kata Hasta Pustaka, 2006.
Nurcholish
Madjid, dan kawan-kawan, HMI Menjawab
Tantangan Zaman, Jakarta: Gunung Kelabu, 1990.
Soebagijo,
Perjuangan Pelajar IPI-IPPI, Jakarta:
Balai Pustaka, 1987.
Sulastomo,
Hari-Hari Yang Panjang 1963-1966,
Jakarta: Kompas, 2000.
Soe
Hok Gie, Catatan Seorang Demonstran, Jakarta:
Kepustakaan Populer Gramedia, 2009.
[1]
Walaupun hampir semua menyebutnya dengan Gerakan 30 September (G 30 S), saya
lebih condong menyebutnya dengan Gestok. Memang gerakan tersebut bernama G 30
S, namun peristiwa tersebut berlangsung pada 1 Oktober 1965 dini hari.
Sunday, August 23, 2015
LAGU “PERGI PAGI PULANG PAGI” REALITA MARHAEN DALAM CENGKERAMAN KAPITALISME & IMPERIALISME
Oleh:
Bung Aslama Nanda Rizal
(Wakil Komisaris Bidang Kaderisasi Komisariat GMNI Geografi UGM)
Ku rela, pergi. Pagi, pulang pagi. Hanya
untuk, mengais rezeki. Doakan, saja. Aku, pergi. Semoga pulang, dompetku
terisi.
(Armada
– Pergi Pagi Pulang Pagi)
Lagu ini adalah karya salah satu
grup musik asal Sumatera, Armada, dengan judul yang menggelitik. Ya. Pergi
pagi, pulang pagi. Sedikit curhat, awalnya saya memandang lagu ini sebelah
mata. Armada memang kerap membuat lagu yang mendayu-dayu dan “cengeng”. Tak ayal,
grup musik ini kadang dicibir sebagai grup musik “kampungan”. Seperti Kangen
Band, ST 12, atau Hijau Daun pada beberapa tahun lalu. Apalagi suara
vokalisnya, Rizal, sangat bernuansa melayu. Cengkoknya saya akui bagus. Tepat jika
ia menyanyi lagu melayu. Namun jika menyanyi lagu pop, apalagi lagu
cinta-cintaan, menjadi kemayu.
Salah satu teman saya ada yang sering
mendengarkan lagu ini. Favorit katanya. Menggambarkan kehidupan rakyat. Awalnya,
saya hanya tersenyum. Namun, kemudian saya penasaran. Saya dengarkan sekali. Enak
juga. Awalnya hanya menikmati lagunya, sekedar mendengarkan. Namun, di suatu malam
saya menyendiri hanya ditemani secangkir kopi. Saya dengarkan lagu ini terus
menerus. Saya teliti seluruh liriknya. Saya hayati dan resapi. Ternyata, saya
acungi jempol untuk Armada untuk karyanya kali ini. Tidak seperti karyanya yang
berjudul “Buka Hatimu”, atau “Mau Dibawa Kemana”. Menggambarkan lelaki yang
lemah di hadapan wanita.
Liriknya sederhana, sangat
sederhana. Menceritakan sosok suami yang pergi bekerja dari pagi hingga pulang
pagi lagi untuk “mengais” rezeki. Demi istri dan keluarga tercinta. Lagu ini
menarik untuk dikupas habis mulai dari musik, lirik lagu, hingga cerita dalam video clip-nya.
Musik
Seperti lagu-lagu Armada lainnya, musik
yang diusung selalu bernuansa melayu. Walau beraliran / genre pop. Namun bisa dibilang, musiknya sangat melayu. Lebih tepat
pop-melayu. Khusus di lagu “Pergi Pagi Pulang Pagi”, gebukan drum dan temponya
sangat kental bernuansa melayu. Suara khas dari Rizal, Vokalis Armada,
mendayu-dayu. Cengkoknya pas. Lagu ini juga enak didengar dengan berbagai
versi. Seperti biasa, para penyanyi dangdut kerap meng-cover lagu-lagu pop. Khususnya pop-melayu. Sebab memang ada
kedekatan nuansa dalam kedua aliran musik tersebut. Penyanyi Campursari
kawakan, Didi Kempot, juga pernah membawakan lagu ini dengan nuansa Jawa. Campursari.
Liriknya pun diubah ke dalam bahasa Jawa. Enak juga mendengarnya. Saya menontonnya
di Youtube, pada acara “Bukan Empat
Mata”. Saya bukan kritikus musik. Hanya penikmat biasa. Demikian yang bisa saya
bahas mengenai musik dalam lagu tersebut.
Lirik Lagu
Lagu ini diawali dengan pernyataan
kesungguhan untuk yang tercinta. Apapun rintangannya, demi yang dicinta, akan
ditempuh. Panas hujan begini, makanan
sehari-hari, adalah penekanan untuk meyakinkan yang tercinta. Lirik tersebut
menurut saya yang paling sering dialami para Marhaen. Ya. para Marhaen terbiasa
dengan suasana seperti ini. Kita bisa lihat misalnya para gelandangan di
pinggir jalan, tukang parkir, dan lain-lain. Para petani rela berkotor-kotor,
nelayan rela bertaruh nyawa di tengah lautan ganas, semua demi yang
dicintainya. Lirik yang digunakan dalam lagu ini sangat sederhana. Bahasanya mudah
dipahami masyarakat. Entah disadari atau tidak, bahkan oleh Armada sendiri, lirik
lagu ini bisa dianggap sebagai kritik sosial.
Cerita dalam Video Clip
Video
Clip dalam lagu ini menggambarkan tentang sosok seorang ayah yang berjuang
demi memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. Ada tukang sapu jalanan, supir
taksi, dan juga Satpam (satuan pengamanan). Ditampilkan juga scene supir taksi yang sedang menghitung
uang, tiba-tiba uangnya terbang dan susah payah untuk dikejar. Terlihat betapa
berharganya uang Rp. 50.000,- bagi kaum Marhaen. Tidak bagi para Borjuis dan
para Kapitalis yang senang menghamburkan uang, yang memiliki modal melimpah dan
terus berputar. Rp. 50.000,- bagi mereka kecil. Namun bagi kaum Marhaen, uang
bernilai demikian adalah besar.
Nampak
juga seorang anak kecil yang membaca poster konser Armada, seakan berharap
ingin menonton bersama ayah dan ibunya, juga terdapat istri yang menunggu di
rumah dengan wajah resah. Menariknya, Armada seolah memberikan kesempatan
kepada tokoh istri dalam lagu tersebut untuk berbicara. Aku rela, ditinggal. Pagi, pulang pagi. Karena kamu mencari rezeki.
Itu adalah pernyataan kerelaan hati seorang istri yang bersabar menunggu
suaminya pulang.
Dalam video tersebut juga
ditampilkan Armada tampil menghibur masyarakat dengan lagu ini. Seperti “Band
Kampung” lainnya, musik Armada yang easy
listening ini memang mudah diterima masyarakat Indonesia. dalam video
tersebut terlihat masyarakat berkumpul dan bergoyang bersama. Ya. seperti
itulah rakyat kecil Indonesia, kaum Marhaen. Hiburan seperti penampilan “Band
Kampung” atau “Dangdutan” seolah menjadi pelipur lara sejenak. Bak obat bius. Mematikan
penderitaan sementara. Marhaen bisa bergoyang bersama, bisa terhibur seolah
tiada masalah. Padahal mereka dilanda kesengsaraan akibat cengkeraman
Kapitalisme & Imperliasme. Di akhir video tersebut digambarkan betapa
bahagianya saat suami pulang menemui istrinya setelah lelah bekerja dan membawa
uang.
Realita Marhaen Dalam Cengkeraman
Kapitalisme & Imperialisme
Lagu
ini adalah representasi kehidupan kaum Marhaen. Mereka hidup dalam cengkeraman
Kapitalisme & Imperialisme, baik nasional maupun global (internasional). Seperti
yang dijelaskan sebelumnya, mungkin Armada tidak sadar bahwa karya mereka ini
adalah kritik sosial. Lagu ini menggambarkan kehidupan masyarakat yang Money Oriented. Kebahagiaan diukur
dengan uang. Kita pasti menolak hal ini. Biasanya kita menganggap kebahagiaan
adalah lebih dari sekedar uang. Uang tidak bisa membeli segalanya.
Memang
benar. Namun yang digambarkan dalam lagu ini adalah realita. Memang bahagia
tidak bisa diukur dengan uang. Namun kita kini hidup di alam Kapitalisme &
Imperialisme. Kedua sistem tersebut merampas makna dari kebahagiaan. Di zaman
seperti ini, jika tidak memiliki uang bagaimana bisa menghidupi kebutuhan
sehari-hari diri sendiri dan keluarga? Pasal 33 dalam UUD 1945 dengan tegas
menyatakan bahwa sumber daya alam dikuasai negara dan diperuntukkan bagi
kesejahteraan rakyat, tidak bisa diwujudkan oleh para pemimpin negeri ini. Sebab
kepentingan pribadi diutamakan. Banyak sekali ekonom-ekonom Indonesia yang
Neo-Lib. Antek-antek Neo-Liberal, yang menginginkan Kapitalisme &
Imperialisme langgeng di Indonesia dengan dalih “kebebasan berusaha”.
Demi
uang, apapun dilakukan. Ya. mencari rezeki halal memang kerap menyakitkan hati.
Harus jujur dan tidak menipu serta tidak menindas orang lain kini adalah sebuah
pengorbanan. Berbeda dengan para maling uang rakyat (baca: koruptor). Memanfaatkan
kekuasaannya untuk memakmurkan keluarganya, namun mencuri uang rakyat. Begitu juga
para bandar judi, para pebisnis narkoba, para mucikari, para pelacur, dan
sebagainya yang menggadaikan imannya demi uang. Lagi-lagi soal perut. Mereka mendapat
rezeki yang melimpah, namun haram. Dalam alam “kebebasan” seperti saat ini,
halal-haram tak lagi perkara. Tuhan seakan dibius untuk tidur nyenyak agar
tidak tahu apa yang mereka perbuat.
Masa
yang disebut Reformasi kini menurut saya hanyalah perpindahan dari Kapitalisme
Terpusat (Orde Baru dan Kroninya), kepada para Kapitalis & Imperialis
global. Demi alasan “Demokratisasi”, kita justru kebablasan. Suka atau tidak,
itulah yang terjadi. Prof. Dawam Rahardjo, Rektor Universitas Proklamasi 1945
Yogyakarta, pernah bercerita dalam diskusi publik Gerakan Mahasiswa Nasional
Indonesia (GMNI) Yogyakarta di kampus tersebut. ia berkata bahwa ia kelabakan
mempertahanakan Pasal 33 UUD 1945 yang berada dalam ancaman untuk diubah agar
sesuai selera para ekonom Neo-Lib dan para Kapitalis.
Kembali
ke topik utama, lagu ini menggambarkan ketidakberdayaan kaum Marhaen menghadapi
kerasnya kehidupan. Terutama di kota-kota besar yang metro bahkan megapolitan. Di
jalan-jalan kota-kota besar, terdapat kesenjangan sosial yang besar. Di tengah
jalan, terdapat banyak mobil bergelimpangan. Sementara para Marhaen di pinggir
jalan. Ada yang mengamen, mengemis, dan berjualan ala kadarnya speerti para
pedagang asongan. Kapitalisme & Imperialisme menciptakan kesadaran palsu. Orang
dihipnotis dengan kedua sistem tersebut. Membuat kebanyakan orang seperti biasa
saja dengan kondisi demikian. Menganggap bahwa kesenjangan sosial tersebut
seakan lumrah terjadi di kota-kota besar.
Tidak Hanya Suami
Walau lagu ini menggambarkan
perjuangan seorang suami dan bapak terhadap keluarganya, namun jika dianalisa
dari realita masyakarat sejatinya tidak hanya itu. Lagu ini juga bisa
direpresentasikan lintas usia. Contohnya, para pengamen cilik jalanan. Juga tidak
hanya suami. Anak-anak dan pemuda pun demikian. Contohnya, para pemulung. Mereka
semua rela melakukan apapun demi menyambung hidup. Ya. hidup mereka tidak lebih
dari sekedar bisa bertahan hidup dan mengenyangkan perut. Walau hanya sekali
sehari, atau bahkan tak tentu. Hanya
untuk, mengais rezeki. Pun, bagi para istri dan ibu. Banyak dari mereka
yang juga bekerja membantu suaminya. Contohnya, pembantu rumah tangga. Baik di
dalam maupun luar negeri (Tenaga Kerja Wanita / TKW).
Khusus TKW, banyak kasus penyiksaan
yang mereka alami di luar negeri. Semua itu mereka hadapi demi keluarganya,
khususnya demi anak-anaknya. Para TKW pun juga jarang pulang, bahkan tidak tahu
kapan bisa pulang untuk menemui anaknya walau hanya sejenak. lebih dari “pergi
pagi pulang pagi”. Mereka pergi dan tak tahu kapan kembali. Contoh berikutnya
juga para pelacur (pekerja seks komersial). Hal ini memang kontroversial. Sebab
banyak dari para pelacur yang sebenarnya mampu, tidak dalam kesulitan ekonomi. Namun
demi harta dan gengsi, mereka gadaikan kehormatan mereka. Demi gaya hidup
mewah. Walau banyak juga yang terpaksa menjadi pelacur karena kesulitan
ekonomi.
Orang Kantoran Pun “Kena”
Ternyata jika dianalisa lagi,
golongan menengah pun juga terkena singgung oleh lagu ini. Ya. para pekerja. Orang-orang
“kantoran” juga. Mereka banyak yang lembur demi memenuhi kebutuhan perusahaan. Para
pekerja memiliki waktu yang terbatas bersama keluarganya, demi lembur hanya
untuk mengembangkan perusahaan tempat mereka bekerja.
Hanya Untuk Mengais Rezeki
Ini lirik yang paling mengena
menurut saya. Sebab demi uang, manusia rela banting tulang. Bahkan jika sudah
sukses, terkadang dimabukkepayang. Ya. lupa daratan. Demi “mengais rezeki”
pula, manusia rela saling mencaci, memfitnah, mencuri, menyakiti hati, hingga
membunuh. Benar kata Bung Karno, bahwa Kapitalisme & Imperialisme bukan
bangsa. Bukan hanya “Londo”, bukan “Bule”. Namun Kapitalisme & Imperialisme
adalah sistem yang menyangkut soal perut, soal perebutan rezeki.
Penutup, saya hanya ingin
mengingatkan bahwa rezeki bukan hanya uang. Kesejahteraan tidak bisa diukur hanya
dengan banyaknya uang. Kebahagiaan tidak bisa dibeli dengan apapun. Namun yang
harus diingat, di alam cengkeraman Kapitalisme & Imperialisme global ini,
uang bisa menguasai segalanya.
Hanya
ada satu kata, LAWAN!
MERDEKA!!!
Subscribe to:
Posts (Atom)




