Wednesday, October 22, 2014

TIKUS BERDASI

Aslama Nanda Rizal


Tuhan, apa Engkau tak salah
Menuliskan dalam buku takdirmu
Menjadikan mereka sebagai wakil kami?
Yang tiada mengenal etika saat persidangan
Yang sering berteriak “interupsi!”
Kami, yang mereka wakilkan di istana hijau yang besar dan tinggi
Menyaksikan langsung dari layar televisi
Keributan para TIKUS BERDASI
Demi pertahankan kepentingan golongan sendiri
Kami selalu dibawa-bawa
Kami selalu disebut-sebut
Kami selalu dicatut-catut
Dalam kampanye, diskusi, dan orasi mereka
Tuhan, saat ini aku tiada punya kuasa
Untuk berkubang dalam lumpur kotor itu
Untuk membungkam mulut-mulut bau
Yang selalu berteriak demi bangsa dan negara
Tuhan, jika Engkau sudah mencatatkan diriku dalam buku takdirmu
Untuk menjadi bagian dari mereka di masa depan
Maka, wahai Tuhanku
Dzat yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang
Izinkanlah aku menjadi pahlawan

Bagi rakyat yang malang

SOSIO-DEMOKRASI

Mengikuti gerakan yang berorientasi pemikiran Bung Karno, berarti harus siap untuk terus memutar otak. Karena tidak sembarang orang bisa mengerti pemikiran Pemimpin Besar Revolusi Indonesia itu. Bung Karno satu-satunya tokoh nasional yang pemikirannya menjadi ideologi tersendiri. Tidak mengekor kepada ideologi maupun tokoh luar negeri yang ideologinya dijadikan dasar perjuangan suatu golongan. Ideologi Bung Karno tersebut adalah Marhaenisme. Ideologi murni bangsa Indonesia.
Marhaenisme jika dijelaskan secara singkat berarti suatu paham untuk menyelamatkan kaum Marhaen (petani kecil, buruh kecil, nelayan kecil, pedagang kecil, dan lain-lain yang kecil-kecil). Bung Karno pernah berkata “yang saya namakan kaum Marhaen adalah setiap rakyat Indonesia yang melarat. Atau lebih tepat: yang dimelaratkan oleh Kapitalisme, Kolonialisme & Imperialisme”. Inti daripada Marhaenisme ada tiga: SOSIO-NASIONALISME, SOSIO-DEMOKRASI, dan KETUHANAN YANG MAHA ESA. Yang ketiganya disebut sebagai TRISILA, hasil perasan daripada PANCASILA. Jadi Marhaenisme adalah PANCASILA itu sendiri.
Pada diskusi GMNI Komisariat Caretaker Geografi UGM kali ini membahas tentang SOSIO-DEMOKRASI. Apa itu Sosio-Demokrasi? Di dalam buku Di Bawah Bendera Revolusi jilid I, Bung Karno menjelaskan dalam tulisannya yang berjudul “Demokrasi-Politik dan Demokrasi-Ekonomi”, bahwa Sosio-Demokrasi adalah demokrasi yang berdiri dengan dua kakinya di dalam masyarakat. Sosio-Demokrasi bukan demokrasi ala Revolusi Perancis, bukan demokrasi ala Amerika, Inggris, Belanda, Jerman, dan lain-lain. Tetapi adalah demokrasi sejati yang mencari kebesaran politik dan ekonomi, keberesan negeri dan keberesan rezeki. Sosio-Demokrasi adalah demokrasi politik dan ekonomi.
Demokrasi Indonesia seharusnya tidak membebek kepada demokrasi barat yang borjuis. Dalam demokrasi barat, rakyat berhak memberikan suaranya. Rakyat juga berhak untuk duduk di parlemen. Hanya demokrasi dalam politik, namun tidak dalam ekonomi. Karena ekonomi barat dikuasai para Kapitalis Lintah Darat penghisap rakyat. Pada Revolusi Perancis, kaum proletar / buruh dan kaum miskin lainnya diajak bersama-sama oleh para kaum borjuis untuk menumbangkan Raja dan system Feodalisme. Dengan dalih “Kebebasan, Persamaan, dan Persaudaraan”.
Rakyat jelata di Perancis yang tergiur oleh slogan tersebut turut berjuang bersama kaum borjuis tersebut. Namun setelah Raja digulingkan, Feodalisme malah berganti menjadi Kapitalisme. Pemerintahan dan ekonomi dikuasai oleh para pebisnis di Perancis demi kesejahteraan mereka sendiri. Itu yang terjadi begitu lama di Eropa, dari Perancis menyebar ke berbagai negara di Eropa. Meskipun pada perkembangannya, rakyat jelata akhirnya diberikan hak untuk bersuara dan ataupun duduk di kursi parlemen. Namun dalam perekonomian, rakyat jelata tak dapat berbuat banyak. Karena terutama Eropa Barat, menganut Liberalisme yang menurunkan system Kapitalisme. Ya, siapa yang kaya dia yang berkuasa. Persaingan bebas, perburuhan, kasta antara Budak & Majikan terjadi karena system tersebut.
Itu yang tidak diinginkan Bung Karno, maka dari itu dicetuskanlah apa yang disebut sebagai SOSIO-DEMOKRASI. Bahwa demokrasi bukan hanya dalam bidang politik saja. Melainkan juga dalam bidang ekonomi yang berpengaruh kepada hubungan sosial. Sosio-Demokrasi timbul karena Sosio-Nasionalisme dari akar Nasionalisme Indonesia. Nasionalisme Indonesia tidak bersifat Chauvinis apalagi Fasis. Nasionalisme Indonesia bukan Nasionalisme barat. Nasionalisme Indonesia adalah karena perikemanusiaan. Bukan Nasionalisme sempit yang membatasi antara Indonesia dan negara lain. Bukan Nasionalisme yang merasa bahwa bangsa Indonesia adalah yang terbaik di dunia. Apa itu Sosio-Nasionalisme? Singkatnya adalah Nasionalisme rakyat, yang menolak borjuasi penyebab kepincangan masyarakat.

Sosio-Demokrasi adalah kelanjutan daripada Sosio-Nasionalisme. Inti daripada Sosio-Nasionalisme dan Sosio-Demokrasi adalah bahwa Indonesia tidak serta menjiplak Nasionalisme dan Demokrasi ala Eropa. Tetapi Indonesia memiliki caranya sendiri dalam menjalankan Nasionalisme dan Demokrasi yang bertujuan untuk kesejahteraan rakyat Indonesia.

TANTANGAN PEMERINTAHAN JOKOWI – JK DALAM MELINDUNGI MINORITAS DI INDONESIA

20 Oktober 2014 yang lalu, Joko Widodo dan Jusuf Kalla (Jokowi – JK) dilantik sebagai Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia. Banyak tantangan yang harus dihadapi pemerintahan Jokowi – JK sebagai warisan dari pemerintahan sebelumnya, SBY – Boediono. Kasus korupsi yang merajalela, masalah bahan bakar minyak (BBM),  kebijakan bantuan langsung tunai (BLT) bagi rakyat miskin yang amburadul, kebijakan penyaluran bantuan dana BOS bagi sarana pendidikan di Indonesia yang tak merata, permasalahan kasus bank Century yang sampai saat ini belum tuntas, tidak adanya transparansi kerja pemerintah kepada rakyatnya, sistem ekonomi kapitalis yang masih mencengkeram Ibu Pertiwi, hingga masalah Hak Asasi Manusia (HAM), merupakan beberapa contoh permasalahan pada masa pemerintahan SBY – Boediono yang harus diselesaikan oleh pemerintahan Jokowi – JK.
Tantangan bagi pemerintahan Jokowi – JK yang menjadi fokus pembahasan opini ini adalah mengenai permasalahan Hak Asasi Manusia (HAM), yakni diskriminasi terhadap kelompok minoritas. Penyerangan terhadap rumah ibadah bahkan pada jama’ahnya tidak bisa diterima. Contohnya di Yogyakarta pada bulan Mei 2014 yang lalu. Tercatat ada 6 kasus kekerasan terhadap kelompok minoritas. Kasus-kasus kekerasan tersebut diantaranya penyerangan terhadap umat kristiani yang tengah beribadah, dan lain-lain. Akibatnya, status Yogyakarta sebagai Negeri Toleran dipertanyakan.
 Juga terhadap warga Syi’ah & Ahmadiyah Indonesia, 2 aliran kepercayaan dalam Islam yang masih menjadi musuh bagi kelompok-kelompok Islam intoleran di Indonesia. Mengutip dari ahlulbaitindonesia.org pada tanggal 4 September 2014, dijelaskan bahwa pengungsi Muslim Syi’ah Sampang di Sidoarjo, dan pengungsi Ahmadiyah di asrama Transito, Nusa Tenggara Barat, juga banyaknya masjid-masjid Syi’ah dan Ahmadiyah yang disegel menyebabkan para Jama’ahnya harus beribadah di luar masjidnya sendiri, hingga detik-detik terakhir pemerintahan SBY – Boediono masih berada dalam ketidakjelasan nasib.
Komnas HAM menyebut pemerintahan SBY – Boediono gagal dalam pemenuhan hak atas kebebasan beragama dan berkeyakinan bagi rakyatnya. Menurut M. Imdadun Rahmat, salah satu Komisioner Komnas HAM, kasus Muslim Syi’ah Sampang dan Jama’ah Ahmadiyah yang masih berada di pengungsian merupakan potret nyata bahwa SBY telah gagal. Pernyataan tersebut disampaikan oleh M. Imdadun Rahmat dalam konferensi pers yang dilakukan Komnas HAM pada 4 September yang lalu di kantor Komnas HAM, Menteng, Jakarta, dengan tema “Mendesak Komitmen Jokowi – Jusuf Kalla terhadap Penyelasaian Kasus Kebebasan Beragama Berkeyakinan sebagai Agenda Prioritas Pemerintah”.
Dalam sejarah Indonesia, Syi’ah dan Ahmadiyah adalah bagian yang tak terpisahkan dari umat Muslim Indonesia. Syi’ah telah berkembang di Nusantara sejak abad ke 12, sementara Ahmadiyah berkembang di Hindia-Belanda pada masa kolonial. Kita tidak bisa melepaskan mereka dari bagian kita, terutama Ahmadiyah. Gerakan Islam yang berasal dari India tersebut telah menginjakkan kakinya di tanah air sekitar 20 tahun sebelum kemerdekaan Indonesia. Ahmadiyah Lahore masuk ke tanah air dibawa oleh Mirza Wali Ahmad Beig pada 1924, sementara Ahmadiyah Qadian menyusul dibawa oleh Rahmat Ali.
Pada kongres Sarekat Islam di Yogyakarta tahun 1928 membicarakan tafsir Al-qur’an yang digarap oleh Cokroaminoto dengan menggunakan tafsir Ahmadiyah Lahore. Haji Agus Salim berpendapat bahwa dari segala jenis tafsir Al-qur’an, baik dari kaum kuno, mu’tazillah, ahli sufi, dan golongan modern, tafsir Ahmadiyahlah yang paling baik untuk memuaskan para pemuda Indonesia yang terpelajar. Ahmadiyah juga mewarnai para pemuda Islam dalam Jong Islamieten Bond. Para Proklamator kemerdekaan Indonesia, Soekarno & Hatta juga dekat dengan Ahmadiyah karena gerakan tersebut dinilai modernis, progesif, dan segar.
Perkembangan kedua kelompok Islam minoritas di Indonesia tersebut seharusnya dipahami betul oleh pemerintahan Jokowi – JK. Sungguh tak adil rasanya, jika hanya karena perbedaan aliran kepercayaan mereka harus tergusur dari rumahnya sendiri. Bahkan tak bisa beribadah di rumah ibadahnya sendiri yang disegel karena dianggap sesat. Jokowi – JK dan jajaran pemerintahannya harus membebaskan mereka dari cengkeraman kelompok Islam intoleran.

Kasus-kasus kekerasan atas nama agama tak boleh dianggap angin lalu bagi pemerintahan Jokowi – JK. Harus ditindak dengan sangat tegas dan tanpa ampun. Indonesia sebagai negara yang plural sedang dilanda ancaman bagi pluralitas tersebut. Dengan dilantiknya Jokowi – JK menaikkan harapan untuk perdamaian dan persatuan Indonesia atas nama Bhinneka Tunggal Ika yang pada dua periode kepemimpinan SBY gagal diwujudkan. Harapan minoritas ada di pundak Jokowi – JK saat ini.

Sunday, December 16, 2012

Ikrar Prasetya

IKRAR PRASETYA KORPS
PEJUANG PEMIKIR-PEMIKIR PEJUANG

Kami anggota Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia adalah Pejuang Pemikir-Pemikir Pejuang Indonesia, dan berdasarkan pengakuan ini, kami mengaku bahwa :
  • Kami adalah makhluk ciptaan Tuhan Al-Khalik, dan bersumber serta bertaqwa kepadaNya.
  • Kami adalah warga negara Republik Indonesia yang bersendikan Pancasila dan setia kepada cita-cita revolusi 17 Agustus 1945.
  • Kami adalah pejuang Indonesia yang menjunnung tinggi kedaulatan rakyat, lahir dari rakyat yang berjuang, dan senantiasa siap sedia berjuang untuk dan bersama rakyat, membangun masyarakat Pancasila.
  • Kami adalah patriot Indonesia, yang percaya pada kekuatan diri sendiri, berjiwa optimis dan dinamis dalam perjuangan, senantiasa bertindak setia kawan kepada sesama kawan seperjuangan.
  • Kami adalah mahasiswa Indonesia, penuh kesungguhan menuntut ilmu dan pengetahuan setinggi-tingginya untuk diabdikan kepada kepentingan rakyat dan kesejahteraan umat manusia.
  • Berdasarkan pengakuan-pengakuan ini, demi kehormatan, kami berjanji akan bersungguh-sungguh menjalankan kewajiban untuk mengamalkan semua pengakuan ini dalam karya hidup kami sehari-hari.
Semoga Tuhan Yang Maha Esa memberkati niat dan tekad kami, dengan taufik dan hidayatNya serta inayatNya.

Friday, June 1, 2012

Trimakasih


pemuda bukan menuntut dan merusak, tetapi membangun.
pemuda bukan mengeluh tetapi menyelesaikan.
pemuda tidak mudah terprofokasi.
pemuda berfikir tidak dengan emosi akan tetapi logika dan hati.
pemuda punya idiologi dan tidak mudah disetir.
pemuda tidak meminta apa yang kabupaten, provinsi bahkan negara yang akan diberikan kepadanya, akan tetapi memikirkan dan bertindak apa yang bisa dilakukan olehNYA.


SELAMAT ULANG TAHUN PANCASILA.

merdeka.!

SELAMAT ULANG TAHUN PANCASILA

               Pada dasarnya Pancasila merupakan kebanggaan kita dan identitas bangsa Indonesia, yang mana mewakili segala rumusan untuk bermasyarakat terlebih berketuhanan yang memiliki ramuan dan tatanan bahasa yang sangat indah dan mencakup semua, Pancasila merupakan sendi - sendi dalam pergerakan, serta merupakan aliran darah yang menuju keotak untuk mewakili pemikiran yang berasaskan Pancasila dan mewakili pergerakan serta panca indra kita,dalam setiap hela nafas untung memeperjuangkan dan berjuang untuk kaum Marhaen dan Pancasila.
             Pancasila merupakan penghubung BANGSA INDONESIA dari sabang sampai merauke yang tertanam pada BHINEKA TUNGGAL IKA yang dapat mempersatukan seluruh indonesia tanpa terkecuali. Pancasila  yaitu :     
  1. KETUHANAN YANG MAHA ESA.
  2. KEMANUSIAAN YANG ADIL DAN BERADAB.
  3. PERSATUAN INDONESIA
  4. KERAKYATAN YANG DIPIMPIN DALAM HIKMAT KEBIJAKSANAAN, DALAM PERMUSYAWARATAN PERWAKILAN.
  5. KEADILAN SOSIAL BAGI SELURUH RAKYAT INDONESIA.
                Lima sila diatas merupakan arahan dan kandungan nilai - nilai yang terdapat dalam pancasila merupakan pedoman dan PANCASILA MERUPAKAN IDEOLOGI BANGSA INDONESIA & NEGARA. Sangat disayangkan jika Pancasila tergerus oleh arus globalisasi dan idiologi - idiologi lainya serta perang mental dan pola pikir, maka dari itu PERAN PEMUDA saat ini lebih berat daripada zaman perjuangan dahulu dalam memperebutkan kemerdekaan, karena musuh yang kita lawan tidak terlihat dan peperangan serta penyusupan idiologi secara dingin telah menunjukan taringnya, dengan adanya hal tersebut PEMUDA memperjuangkan dan membangun serta menjaga KEDAULATAN Bangsa Indonesia dengan perisai Pancasila jangan sampai kita tergerus arus globalisasi dan modernisasi yang dapat merobohkan sendi - sendi Pancasila.INDONESIA. 

MERDEKA....!!!


OLEH :    Nandi Wardana    (Komisaris GmnI Geo UGM - pembangunan wilayah)





Sunday, May 27, 2012

BUNG KARNO DAN TATA RUANG KOTA JAKARTA


Banyak orang yang nggak tau bahwa Bung Karno adalah salah satu Presiden yang amat mengerti tata ruang kota dan tata ruang wilayah geopolitik, dia sendiri sudah mendesain seluruh wilayah Indonesia dengan bagian-bagian pembangunannya, hal ini menjadi satu bagian dari dokumen Deklarasi Ekonomi Djuanda 1960.

Kebanyakan dari orang-orang Sukarno hanyalah seorang arsitek yang gemar mendesain patung, hasil karyanya untuk rumah hanyalah beberapa rumah di Bandung yang ia gambar saat ia berkolaborasi dengan Insinyur Rooseno, atau ketika ia baru lulus kuliah THS (skg ITB) membuat jembatan-jembatan kecil. Bahkan secara sarkastis, mahasiswa-mahasiswa anti Sukarno di tahun 1965 meledek Bung Karno sebagai "Orang Tua Pikun, Patung kok dikira celana" samberan ini meledek soal pidato Sukarno, bahwa Patung itu seperti celana, sebagai sebuah kehormatan bangsa.

Padahal Sukarno adalah pemikir besar, ia mendesain bukan saja patung-patung yang banyak meniru model Eropa Timur, ia mendesain kota-kota besar masa depan Indonesia. Di tahun 1958 setelah pengusiran warga Belanda dan pengambilalihan modal-modal Belanda sebagai bagian pernyataan siap perang Indonesia dengan merobek-robek perjanjian KMB, Sukarno sebenarnya sudah merancang Djakarta menjadi kota tempur.

Seperti kota Singapura di mana seluruh bujur jalannya lurus-lurus dan lebar sekali, sebenarnya itu disiapkan untuk menjadi markas atas penguasaan wilayah Asia Tenggara. Bagi Bung Karno stabilitas Asia Tenggara adalah segala-galanya untuk melepaskan Indonesia dari politik ketergantungan modal dan politik invasi wilayah-wilayah produk ~apa yang ditakutkan Sukarno pernah diucapkan pada Djuanda "Amerika sekarang tak lebih dengan Belanda, mereka tak berminat terhadap kesatuan wilayah, mereka hanya berminat wilayah-wilayah kaya modal, wilayah produktie, inilah yang menyamakan mereka dengan Belanda di tahun 1947 dimana agresi militer mereka dinamakan dengan sandi "Operatie Produkt".

Wilayah-wilayah yang jadi prioritas Sukarno setelah siap perang dengan Belanda adalah Irian Barat, merebut Irian Barat dan menjadi satu bagian NKRI adalah satu syarat agar bangsa ini menjadi paling kuat di Asia. Selain Irian Barat yang menjadi perhatian penting Bung Karno adalah Kalimantan. Awalnya Semaun yang membawa saran tentang perpindahan ibukota, -Semaun adalah konseptor besar atas tatanan ruang kota-kota satelit Sovjet Uni di wilayah Asia Tengah - dan ini kemudian disambut antusias oleh Bung Karno, selama 1 tahun penuh Bung Karno mempelajari soal Kalimantan ini, ia berkesimpulan "masa depan dunia adalah pangan, sumber minyak dan air. Pertahanan militer bertumpu pada kekuatan Angkatan Udara".

Bung Karno membagi dua kekuatan itu besar pertahanan nasional dalam dua garis besar : Pertahanan Laut di Indonesia Timur dengan Biak menjadi pusat armada-nya (ini sesuai dengan garis geopolitik Douglas MacArthur) dan Pertahanan Udara di Kalimantan. Lalu Bung Karno mencari kota yang tepat untuk menjadi 'Pusat Kalimantan'.

Lalu pada satu malam di hadapan beberapa orang Bung Karno dengan intuisinya mengambil mangkok putih di depan peta besar Kalimantan, ia menaruh mangkok itu ke tengah-tengah peta, kemudian Sukarno berkata dengan mata tajam ke arah yang mendengarnya "Itu Ibukota RI" Bung Karno menunjuk satu peta di tepi sungai Kahayan. Lalu Bung Karno ke tepi Sungai Kahayan dan melihat sebuah pasar yang bernama Pasar Pahandut, dari Pasar inilah Bung Karno mengatakan "Ibukota RI dimulai dari sini" ini sama persis dengan ucapan Daendels di depan Asisten Bupati Sumedang saat membangun jalan darat Pos Selatan untuk gudang arsenal Hindia-Perancis, ketika itu ia menunjuk satu tempat yang kita kenal sekarang sebagai Bandung "Bandung jadi titik nol wilayah pertahanan Jawa".

Lalu Bung Karno menyusun dasar-dasar kota administrasi provinsi dengan dibantu eks Gubernur Jawa Timur RTA Milono, pada saat penyusunan birokrasi itu Bung Karno sedang menyiapkan cetak biru besar tentang rancangan tata ruang negara dari Sabang Sampai merauke. Antara Pulau Sumatera-Jawa dan Bali akan dibangun terowongan bawah tanah, karena rawan gempa Bung Karno meningkatkan armada pelabuhan antar pulau dipesan kapalnya dari Polandia. Tapi rencana membuat channel seperti di selat Inggris tetap diprioritaskan bahkan menjelang kejatuhannya di tahun 1966 ia bercerita tentang channel bawah tanah yang menghubungkan Pulau Sumatera-Jawa dan Bali.

Pusat pelabuhan dagang bukan diletakkan di Jawa, tapi disepanjang pesisir Sumatera Utara- Kalimantan-Sulawesi, Sukarno mempersiapkan rangkaian pelabuhan yang ia sebut sebagai "Zona Tapal Kuda". Wilayah Jawa dan Bali dijadikan pusat lumbung pangan.

Kota-kota baru dibangun, pilot project-nya adalah Palangkaraya dan Sampit, setelah itu Djakarta juga dibangun untuk display ruang atau model kota modern, Jakarta tetap dijadikan pusat kota jasa Internasional sementara Palangkaraya menjadi pusat pemerintahan dan pertahanam militer udara, Biak di Irian Barat jadi pertahanan militer laut dan Bandung jadi Pusat Pertahanan militer darat.

Seluruh jalan Palangkaraya dibuat lurus-lurus dan menuju satu bunderan besar, bila perang dengan Inggris beneran terjadi maka jalan-jalan itu diperlebar sampai empat belas jalur untuk pendaratan pesawat Mig21 yang diborong dari Sovjet Uni. Rencana tata kota sampai dengan tahun 1975. Rafinerij atau tambang-tambang minyak milik asing akan diambil alih dan diberikan pada serikat-serikat buruh penguasaan saham diatasnamakan negara dan uangnya untuk pendidikan, kesehatan dan kesejahteraan umum. Pangdam Kaltim di pertengahan tahun 1960-an Brigjen Hario Ketjik adalah salah satu fanatik Sukarnois yang menerapkan rencana ini di Kalimantan Timur.

Pembangunan tata ruang kota Palangkaraya diatur amat teliti, sampai sekarang tata ruang kota Palangkaraya paling rapi di Indonesia. Visi Sukarno, di tahun 1975 Indonesia akan jadi bangsa terkuat di Asia dan menjadi salah satu negara adikuasa dunia dalam konteks the big five : Amerika Serikat, Inggris, Sovjet Uni dan Jepang,

Jepang dan Cina menurut Sukarno masih bisa dibawah Indonesia. Dan Indonesia jadi negara terkuat di Asia memimpin tiga zona wilayah. (Asia Tenggara, Asia Selatan dan Asia Timur).

Setelah Bung Karno kalah duluan sama Suharto dalam penguasaan keadaan saat Gestapu 1965, Bung Karno diinternir, Suharto amat takut dengan bentuk persebaran kekuatan wilayah, ia bertindak seperti Amangkurat I yang paranoid terhadap kekuatan pesisir, ia tarik seluruh kekuatan modal dan manusia ke satu pusat yaitu : Jawa.

Padahal Jawa disiapkan Sukarno sebagai pulau yang khusus lumbung pangan dan pariwisata, pulau peristirahatan, sekarang Jawa adalah pusat segala-galanya, menjadi pulau paling padat sedunia dan tidak memiliki kenyamanan sebagai sebuah 'surga khatulistiwa' sementara Kalimantan dibiarkan kosong melompong.

Andai saja akademisi kita tidak ikut-ikutan mengotori dirinya seperti comberan mulut politikus, ada baiknya menggali "rencana-rencana Sukarno" ini ketimbang mengomentari dan mengamati 'Para Maling main politik'.

Bersiaplah kaum muda untuk kembali ke peradaban Sukarno...Peradaban penuh daulat dan kehormatan!!..........

Jakarta. Februari 2012

Anton DH Nugrahanto , eyang merapi

Artikel ini merupakan kutipan dari  forum diskusi ikatan alumni GmnI.