Tuesday, June 23, 2015

CINTA DALAM BELENGGU FEODALISME

Oleh: 
Bung Aslam (Wakil Komisaris Bidang Kaderisasi)

               Jean, remaja 15 tahun yang baru saja kehilangan orangtuanya meninggal dengan jarak berdekatan. Sebulan setelah ibunya meninggal, ayahnya menyusul ke pangkuan Tuhan. “Oh Bapa di Surga, Oh Tuhan Yesus, Oh Roh Kudus, Eli.. Eli.. Lama Sabaktani (Tuhanku, mengapa kau tinggalkan aku?)”. Gumam Jean tatkala mengetahui ayahnya meninggal.
            Sejak itu, tekad kuat untuk bertahan hidup laksana darah yang mengalir dalam tubuh Jean. Tekad kuat itu tak terpisahkan dari jiwanya. Jiwa seorang remaja sebatang kara yang pada akhirnya, mencambuknya tatkala ia lemah, tatkala ia berputus asa, tatkala ia tiada memiliki semangat menjalani hidup. Tekad kuat itu laksana bayangan kedua orangtuanya, yang selalu menghantui Jean kemanapun ia melangkah.
            Jean bekerja pada Tuan Jacob, seorang konglomerat yang sangat terkenal di kotanya. Tuan Jacob berusia 70 tahun. Tanah dan bisnisnya dimana-mana. Keluarganya yang menjalankan dan meneruskan usahanya. Jean dengan rela hati membanting tulang menjadi petani di sana. Puji Tuhan, Jean tak sendiri. Ia bekerja bersama puluhan orang lainnya yang terpaksa menjadi petani demi menghidupi kebutuhan keluarganya. Siang hari, para petani diizinkan beristirahat sejenak sebelum melanjutkan pekerjaannya kembali.
“Siapa namamu, anak manis?” tanya Olivier, seorang petani berusia 40 tahun yang telah dua puluh tahun mengabdi untuk keluarga Tuan Jacob.
“Jean. Jean Alexandre. Bapak?”
“Saya Olivier. Olivier Boumsong. Kamu panggil saya Pak Olive saja”.
“Iya, Pak Olive. Sudah lama bapak bekerja di sini?”
“Sudah dua puluh tahun. Dari saya remaja sepertimu sampai berkeluarga dan memiliki tiga orang anak, saya mengabdi pada keluarga Tuan Jacob. Semua ini demi bertahan hidup sebab saya hanyalah orang miskin. Kamu baru bekerja di sini ya, Nak? Berapa usiamu saat ini?”
“Lama sekali, Pak. Iya,ini hari pertama saya kerja di sini. Beberapa waktu yang lalu kedua orangtua saya meninggal dunia. Saya anak tunggal. Saya menjadi sebatang kara. Karena itu, saya mencari pekerjaan untuk bertahan hidup. Sama seperti bapak, saya orang miskin. Saya baru berusia 15 tahun”
“Wah….”.
“Waktu istirahat sudah habis. Cepat lanjutkan pekerjaan kalian! Cepat!”. Belum sempat Pak Olive melanjutkan pembicaraannya, seorang pegawai kelas atas di keluarga Tuan Jacob laksana mandor berteriak lantang kepada seluruh petani. Orang itu bernama Pierre, asisten keluarga Tuan Jacob.

***

            Sepuluh tahun Jean bekerja pada keluarga Tuan Jacob, menggarap tanahnya. Bersama puluhan petani lainnya, mereka menyulap tanah menjadi hasil bumi yang menggiurkan. Namun, mereka hanya bisa memandangi elok rupa dari hasil bumi tersebut. Sebab keluarga Tuan Jacoblah yang berhak menerima hasil bumi dari tanah itu. Para petani hanya diberikan upah. Mereka boleh menggarap tanah mereka sendiri jika punya. Namun, sebagai konsekuensinya sebagian hasil bumi dari tanah mereka sendiri dikenakan pajak oleh keluarga Tuan Jacob.
            Kini Jean berusia 25 tahun. Jean telah tumbuh menjadi lelaki dewasa yang amat tampan. Di usia yang cukup matang tersebut, ia belum menikah. Jean belum menemukan wanita yang tepat, yang mau hidup bersama dalam nuansa kesederhanaan.
            Tuan Jacob pun semakin senja. Usianya kini 80 tahun. Ia memiliki seorang cucu yang sangat cantik jelita, bernama Felicia. Putri dari Mathieu, putra sulung Tuan Jacob, pewaris tahta utama dari seluruh usaha keluarga Tuan Jacob. Felicia seusia dengan Jean, 25 tahun. Tatkala Jean pertama kali menjadi petani, Felicia sedang menghabiskan masa mudanya di luar kota. Di tempat pamannya yang bernama Sebastian. Mathieu yang menitipkan di sana sejak Felicia berusia 10 tahun.
Kini lima belas tahun berselang. Felicia kembali ke kampung halamannya. Felicia sangat cantik, anggun, dan berbudi pekerti luhur. Jauh dari watak keluarganya yang tamak, dibanjiri keangkuhan yang menjulang ke angkasa.
            Suatu saat, Felicia berkeliling pekarangan rumah, suatu aktivitas yang tiap hari ia lakukan. Ia menyaksikan dengan mata telanjang bahwa para petani tengah bertumpah peluh dan dahaga menggarap tanah keluarganya. Rasa tak tega menyelimuti hatinya. Sesekali ia menyapa para petani dan menebarkan semangat pada mereka. Dan dengan nekatnya ia sering membawakan minuman untuk para petani. Durhaka pada Orangtua versi keluarga Tuan Jacob. Siang itu, tiba waktu untuk istirahat bagi para petani. Jean duduk seorang diri. Ia meluruskan kakinya yang pegal dan berkali-kali mengelap peluh dengan kausnya yang kusam.
“Permisi, selamat siang. Tetap semangat ya. Ini ku bawakan minuman untukmu. Bolehkah aku duduk di sampingmu?”. Felicia berkata pada Jean. Rupanya Felicia tiap hari memantau Jean. Ia sering memperhatikannya dari jauh, namun tak berani menyapa. Felicia terpesona dengan ketampanan Jean. Berhari-hari sampai akhirnya ia memberanikan diri mendatangi Jean.
“Silahkan. Terimakasih sekali. Kamu siapa? Aku belum pernah melihatmu sebelumnya”. Jawab Jean sekaligus bertanya dengan muka penasaran yang tak terbendung.
“Aku Felicia. Felicia Marie. Panggil saja aku Fely. Kamu?”
“Aku Jean. Jean Alexandre. Apa kamu bekerja di sini juga? Aku tak pernah melihatmu sebelumnya. Memang aku tak mengenal seluruh petani di sini. Terlalu sibuk mengurusi tanah Tuan Jacob yang luas ini sampai aku tak sempat bersosialisasi dengan sesama petani”
“Hehehe. Luar biasa dirimu, Jean. Perkenalkan, aku cucu Tuan Jacob”
“Apa??? Oh, Tuhan. Aku tak boleh berada di sini. Aku harus pergi. Aku tak boleh bercengkerama denganmu. Nanti aku bisa dimarahi Pak Pierre. Aku bisa dilaporkan pada ayah dan kakekmu. Aku tak pantas berada di sampingmu. Aku hanya petani yang bekerja untuk keluargamu”
“Tenang saja. Tak usah dirimu berpikir dan berkata seperti itu. Aku memang baru beberapa hari ini di sini. Aku baru pulang. 15 tahun aku tinggal bersama pamanku, kini aku pulang ke rumahku. Aku tak bersifat seperti keluargaku. Aku sangat miris melihat kalian, para petani. Tiap hari aku selalu berkeliling melihat kalian. Sebenarnya itu hanya alasanku untuk bisa menemani kalian. Sekedar menebar senyum dan semangat serta memberi minum. Jangan khawatir ya, Jean”. Jawab Felicia dengan senyum manisnya yang semakin menarik kecantikannya yang tiada tara.
“Tapi…..”
“Tak usah tapi-tapi. Ini, minumlah!”
“Aku takut….”
“Takut karena aku atau takut mati kehausan? Sudah, minumlah”.
“Terimakasih, Tuan Fely”
“Tak usah kau panggil diriku tuan. Sudah ku bilang, panggil saja aku Fely!”
“Baik. Terimakasih, Fely”. Jawab Jean menggigil ketakutan sambil menenggak minuman yang diberikan Felicia.
“Jean, berapa usiamu? Ku lihat dirimu masih begitu muda. Dimana dirimu tinggal?”
“25 tahun, kamu? Aku tinggal di kampung Strelliaue. Rumahku berwarna merah, gubuk terkecil di sana”
“Wah.. sama. Aku pun 25 tahun. Oh, kamu sudah menikah?”
“Ah, kamu ini menghina diriku saja. Mana ada yang mau dengan pemuda sepertiku ini? Aku hanya seorang petani miskin. Kau kan tahu, banyak wanita yang diperistri oleh para tuan tanah. Pola pikir wanita zaman sekarang telah berubah. Jikalau ingin hidupnya membaik, dipersunting tuan tanah adalah pilihan yang tak bisa ditolak”
“Kau kan tampan, berbudi pekerti tinggi lagi. Pak Olive sudah menceritakan padaku tentang dirimu. Hehehe”
            Tiba-tiba Pak Pierre datang dan berteriak lantang pada mereka berdua. Rupanya ia telah memantau gerak-gerik Felicia beberapa hari ini. Semenjak Felicia pulang, Pak Pierre ditugasi ayahnya Felicia untuk memantau putrinya yang Mahajelita itu.
“Felicia! Sedang apa kau di sini? Wah.. Kurang ajar kau, Jean. Petani berani-beraninya mengganggu putri tuan tanah. Lancang kau!” Seketika Pak Pierre menampar muka Jean hingga warna merah terlukis di pipi Jean.
“Om Pierre! Anda yang kurang ajar! Jean tengah beristirahat seorang diri di sini. Aku yang mendatanginya. Ku berikan minuman padanya karena ia kehausan. Dan aku yang membuka obrolan dengannya”
“Fely, saya hanya diberi tugas oleh ayahmu untuk memantaumu. Gerak-gerikmu dinilai ayahmu mencurigakan. Maka saya disuruh untuk mengawasimu. Sekarang pulanglah!”
Sambil menggenggam tangan Felicia sekuat tenaga, Pak Pierre menarik paksa dan membawa Felicia pulang ke rumah.
“Cepat kembali bekerja! Waktu isitirahat telah usai. Jangan ada yang berani kurang ajar atau saya pecat!” teriak Pak Pierre hingga terdengar ke seluruh telinga para petani.
Jean hanya terdiam dan kembali bekerja.
            Dua bulan lamanya Felicia dikurung di rumah. Ia dalam pengawasan ketat. Terpenjara dalam rumahnya sendiri. “Jikalau ku tahu akan seperti ini lebih baik tak pulang saja. Lebih baik ku tetap tinggal di rumah paman”. Gumam Felicia. Setelah dua bulan, ia ‘dibebaskan’. Ayah dan ibunya iba melihat putri cantiknya yang tak kuasa menahan kesedihan selama dua bulan lamanya. Akhirnya Felicia diberi izin untuk bebas berkeliaran ke luar rumah tanpa pengawasan Pak Pierre.
            Kesempatan itu tak disia-siakan oleh Felicia. Sudah dua bulan lamanya ia merindukan Jean. Ternyata, Tuhan memang Mahaindah. Dengan keindahan-Nya, Jean memiliki perasaan yang sama dengan Felicia. Keduanya saling jatuh cinta. Namun Jean sangat tak kuasa. Bahkan untuk sekedar memandangi kecantikan wajah Felicia yang tak kuasa dicegah, Jean tak mampu. Jean sadar, ia hanya petani. Sedangkan Felicia, putri tuan tanah. Putri majikannya.
Dengan rindu yang tak terbendung, Felicia nekat mendatangi rumah berwarna merah laksana gubuk itu, di kampung Strelliaue. Ya, rumah Jean. Felicia pergi ke sana di waktu yang tepat, tatkala senja baru saja disantap oleh keperkasaan malam. Tatkala Jean telah pulang ke rumahnya. Setelah bekerja seharian, Jean mandi dan makan malam di dalam gubuknya. Seorang diri, suatu kondisi yang sudah biasa menyelimutinya.
“Permisi. Selamat malam, Jean”
(Jean membukakan pintu)
“Astaga, untuk apa kau kemari? Jangan membuatku takut. Aku tak punya pekerjaan lagi. Apa kau tega jikalau aku dipecat?”
“Tak perlu cemas, Jean. Aku sudah bebas. Aku dikurung dua bulan di rumahku sendiri. Ayah dan ibu akhirnya terbuka mata hatinya. Mereka membebaskanku serta menjamin tak ada yang mengawasiku lagi. Bolehkah aku masuk?”
“Ya, silahkan”
Di dalam rumah Jean, mereka berbincang-bincang sampai tengah malam datang menjelang. Bak suatu negeri yang dianugerahkan hujan setelah sekian lama tak turun hujan. Mereka saling merindu. Perbincangan hangat itu melepaskan jeratan kerinduan mereka. Namun Jean tetap tahu diri, sadar bahwa ia tak pantas untuk Felicia.
“Felicia, sudah saatnya kau pulang. Sudah terlalu malam. Nanti orangtuamu khawatir. Nanti aku yang dicurigai karena kepulangan larutmu ini”
“Iya, aku pulang ya. Terimakasih sudah menemaniku. Sebelumnya, aku ingin berpesan padamu. Genggam eratlah terus pesan ini sampai kau mati. Jean, jikalau suatu saat nanti Tuhan memberimu izin untuk terbebas dari belenggu kemiskinan, jikalau suatu saat nanti kau menjadi kaya raya, jangan biarkan keangkuhan tumbuh dan menetap dalam hatimu. Tetaplah rendah hati. Jikalau suatu saat nanti nasibmu terbalik, kau yang menjadi tuan tanah, maka jangan kau siksa para petani”. Ujar Felicia, kemudian ia pulang.

***

            Suatu hari, Tuan Willard, rekan Tuan Jacob sesama konglomerat tengah sakit keras. Berbagai tabib telah didatangkan namun tak berhasil menyembuhkan. Tuan Willard pun belum putus asa. Ia percaya kekuatan magis bisa menyembuhkan. Kekuatan magis yang diinginkan Tuan Willard bukan mantra, bukan jin, dan sebagainya. Tetapi puisi cinta romantis yang dapat meluluhkan hatinya. Ia percaya demikian sebab istirnya yang sudah meninggal, tatkala masih hidup adalah seorang penyair dan pembuat puisi cinta romantis yang cukup terkenal di kotanya. Biasanya setiap sebelum tidur, Tuan Willard sering dibacakan puisi cinta romantis oleh mendiang istrinya. Maka Tuan Willard mengadakan sayembara, barangsiapa yang mampu mengobati sakitnya dengan puisi cinta romantis untuknya, maka akan diberikan seperempat tanahnya dan berhak menjadi tuan tanah di sana. Tanah Tuan Willard sangat luas, bahkan lebih luas dari tanah Tuan Jacob.
            Ratusan orang banyak yang mengikuti sayembara itu, namun semuanya gagal. Sementara sakitnya Tuan Willard semakin parah. Kesempatan untuk menjadi kaya raya ini tak disia-siakan Jean. Ia sejak kecil memang hobi menulis puisi. Tulisan-tulisannya tersimpan rapi di gubuk merahnya. Ia hanya menjadikannya sebagai koleksi pribadi. Karena puisi adalah penghibur hati tatkala ia tengah kehilangan gairah kehidupan. Jean pun menulis berbait-bait puisi cinta romantis. Setelah jadi, ia mendatangi keluarga Tuan Willard untuk menyerahkan puisinya.
            Dalam kondisi sakit yang parah, Tuan Willard tetap yakin bisa sembuh dengan puisi cinta romantis. Ia tetap berusaha membaca seluruh puisi yang dikirimkan kepadanya. Tatkala membaca puisi karya Jean, ia bergumam, “Aduhai, betapa indahnya puisi ini. Mengingatkanku pada istriku tercinta”. Berkali-kali ia baca puisi tersebut, semakin tersenyumlah ia, semakin rianglah hatinya, semakin bersemangatlah jiwanya, semakin tak terasa sakitnya. Dan akhirnya, sembuhlah ia. “Ini dia pemenang sayembara yang ku janjikan. Umumkanlah bahwa ia pemenangnya, dan berhak menerima seperempat tanahku”. Perintah Tuan Willard pada keluarganya.
            Sayembara pun diumumkan. Jean tak kuasa membendung derasnya rasa bahagia dalam hatinya. Nasib Jean berubah total. Ia menjadi tuan tanah. Ia menjadi konglomerat dadakan. Ia pun berhenti sebagai petani di keluarga Tuan Jacob. Setelah berkemas dan meninggalkan Strelliaue, ia berpamitan pada keluarga Tuan Jacob dan seluruh petani yang bekerja di sana. Termasuk Pak Olivier, yang kini telah berusia 50  tahun. Lalu ia pergi menuju Volxemau, tempat dimana Tuan Willard tinggal. Keluarga Tuan Jacob awalnya tak kuasa menahan ketidakpercayaannya, bahwa Jean, yang telah 10 tahun mengabdi pada keluarga Tuan Jacob kini setara dengan mereka. Tuan Jacob beserta seluruh anggota keluarganya meminta maaf atas perlakuan terhadap Jean selama mengabdi pada mereka. Pak Pierre pun tersipu malu, dirinya teringat pernah menampar Jean. Namun dengan budi pekertinya yang tinggi, Jean memaafkan segala perlakuan keluarga Tuan Jacob, termasuk Pak Pierre. Ia pun berpamitan pada Felicia dengan wajah sumringah. Felicia bahagia bercampur takut. Ia takut sifat Jean akan berubah menjadi rakus dan angkuh.
            Jean pun menjadi tuan tanah yang baru. Ia berhasil merekrut banyak petani yang terpesona olehnya. Cerita tentangnya menyebar ke penjuru kota. Ia dikenal bak pangeran dalam dongeng yang mampu membangunkan seorang putri yang tertidur lama sekali dengan kecupannya. Ia pun teringat dengan pesan yang disampaikan Felicia. Tetaplah rendah hati. Jean laksanakan itu. Ia tetap rendah hati. Bahkan para petani yang bekerja di sana menjadi sejahtera. Mereka diberikan modal untuk menggarap tanah mereka sendiri jika punya, tanpa dipungut pajak oleh Jean.
            Dengan status sosialnya yang telah jauh meningkat, Jean memberanikan diri untuk mempersunting Felicia. Ia mendatangi rumah kediaman keluarga Tuan Jacob. Alangkah senangnya hati Jean, ia diterima baik di keluarga itu dan lamarannya pun diterima. Wajar memang, dengan keangkuhan mereka, keluarga Tuan Jacob bisa menerima. Lain halnya jikalau Jean melamar Felicia dalam keadaan sebagai petani. Tentu penolakan, cacian, bahkan pemecatan tak akan ragu dilakukan keluarga Tuan Jacob. Setelah mendapat persetujuan keluarga, Jean pun berbincang dengan Felicia.
“Fely, maukah dirimu menjadi istriku? Menjadi ibu dari anak-anakku kelak. menjadi permaisuriku. Aku mencintaimu”
“Kau masih ingat pesanku, Jean?”
“Masih dan sedang ku lakukan semua pesan yang kau sampaikan di rumahku waktu itu”
“Baik, aku menerima cintamu. Aku mau menjadi permaisurimu. Aku rela hati menjadi Nyonya Jean Alexandre. Karena kau tahu? Aku mencintaimu sejak pertama kali kita bertemu”
“Aku juga mencintaimu sejak pertama kali kita bertemu, Felicia. Jikalau karena eloknya parasmu, maka bukan itulah alasannya. Tetapi sapaanmu, tawaran airminum darimu, dan obrolan pertama kita, bahkan dengan nekatnya kau datangi rumahku…. Itulah alasannya. Ya, Felicia. Aku sangat mencintai kesederhanaanmu”
            Mereka pun menikah. Sungguh bahagia bukan kepalang bagi mereka berdua. Jean luar biasa. Tekad kuat, kerja keras, dan semangat bertahan hidup menempanya menjadi seorang pemuda yang kuat secara jiwa dan raga. Jean tak menyangka, dirinya akan sangat beruntung di masa depan setelah di masa lalu ia ditinggal kedua orangtuanya di usia belia, lalu sepuluh tahun berikutnya menjadi petani miskin. Puisinya mengantarkan Jean menuju singgasana hati Felicia yang diikat secara sah dalam pernikahan.
Ya. Jean dan Felicia adalah korban.

Cinta dalam belenggu Feodalisme!

Tuesday, June 16, 2015

MATAHARI DI UJUNG TANAH ANARKI

Terbit laksana senja di pagi hari
Mungkinkah?
Mungkin saja,senja di pagi hari
Ketika yang belum saatnya tiba tibalah sudah
Tak ada beda baik dan jahat
di tanah anarki
Ajakan pagi dari sebuah sore kelam
Di tanah anarki
Dimana penindasan dihalalkan
Kemunafikan dijunjung tinggi
Keberagaman dipandang rendah
Dan kejujuran tiada berharga
Sebenarnya ada hal yang paling gila di dunia ini
Kebohongan terhadap diri sendiri
Terlalu banyak jawaban kosong
Yang menenggelamkan sejarah
Sejarah peradaban di tanah anarki
Ya di tanah anarki
Lalu,,,
Seperti apa ini akan dilanjutkan
Ketika kebengisan menjadi modal utama
Dalam menentukan nasib berlaksa-laksa
Tergeletak menghampa di pinggiran asa
Tidak ada kejelasan dalam berpihak
Tiada lagi dia punya ruh kebaikan
Di tanah anarki....
Ketika seremoni dikedepankan daripada esensi
Ketika eksekusi dipentingkan daripada kemiskinan
Ketika persepsi ditandingkan dengan fakta
Di tanah anarki

Tiada perbedaan
SWASEMBADA MENYONGSONG KEDAULATAN PANGAN

Kebijakan Swasembada Pangan sangat mempengaruhi keberadaaan pangan di Indoensia. Swasembada sendiri dapat dimaknai sebagai pemenuhan atas kebutuhan sendiri, tidak bergantung kepada luar negeri. Indonesia pernah dikenal sebagai negara swamsembada pangan, namun sebutan ini semakin luntur akibat semakin turunnya produktivitas panen Indonesia.
          Sejak lama pemerintahan Indonesia memikirkan cara untuk swasembada pangan. Pemerintahan Orde baru dengan kebijakan Pelita IV di tahun 1984 (dekade tahun 80-an) berhasil melaksanakan swasembada pangan, hingga yang terbaru rezim pemerintahan Jokowi-JK dengan kebijakan swasembada pangan yang oleh Menteri Pertanian di targetkan tercapai dalam kurun waktu tiga tahun sejak pemerintahan Jokowi-JK resmi menjabat. Wakil presiden Jusuf Kalla bahkan memproyeksikan Indonesia akan swasembada pangan dalam jangka waktu satu tahun.
Berbagai strategi digunakan oleh pemerintahan Jokowi-JK untuk mewujudkan swasembada pangan, mulai dari anggaran yang besar untuk perbaikan irigasi dan pembangunan waduk, distribusi pupuk bersubsidi, serta bantuan traktor untuk petani . Bantuan traktor terbaru  sekitar  6000 unit di kab. Ponorogo, Jawa Timur. Sebelumnya, presiden Jokowi sudah membagikan sekitar 1.099 traktor secara langsung di Subang . Pembagian traktor di Kab. Ponorogo ini menimbulkan permasalahan yang sempat marak di media.  Kejanggalan pembagian traktor ini akibat ditariknya kembali traktor oleh pemerintah daerah, sehingga membuat masyarakat khususnya petani menyindir pemerintah dengan sebutan  “janji palsu”. Untuk kasus ini, presiden memberikan keterangan langsung, bahwa langkah yang diambil bertujuan untuk  pemerataan distribusi traktor ke daerah-daerah lainnya.
Distribusi pupuk juga menjadi sorotan pemerintah dalam mewujudkan swasembada pangan, tidak tanggung-tanggung Menteri pertanian mengatakan akan mencabut izin operasi bagi para distributor pupuk jika pengirimannya terlambat. Pupuk bersubsidi menjadi penting bagi masyarakat untuk meningkatkan produktivitas pertanian, khususnya padi sebagai bahan pokok utama pangan di Indonesia. Presiden Jokowi mengakui bahwa dalam distribusi pupuk masih ada oknum yang “main”. Berbagai cara digunakan untuk menanggulangi para mafia pupuk ini hingga pelibatan TNI dalam distribusi. Modus yang dilakukan oleh mafia pupuk ini beragam, mulai dari menyelundupkan pupuk bersubsidi hingga mendirikan koperasi gadungan. Tidak terkecuali dengan DIY  dan sekitarnya, kelangkaan pupuk bersubsidi menjadi masalah karena kekurangan pasokan dari pusat. Di samping itu, untuk menghindari terjadinya penyalahgunaan pupuk bersusbsidi, TNI di wilayah DIY dan sekitarnya dilibatkan secara langsung.
Upaya-upaya yang dilakukan oleh pemerintah patut kita apresiasi, meski masih banyak celah yang harus ditutupi. Seyogyanya Indonesia dengan kekayaan sumber daya alam yang melimpah dapat mewujudkan swasembada pangan, bahkan menjadi importir beras. Cukup miris melihat Indonesia yang harus mengimpor beras dari negara tetangga seperti Thailand dan Vietnam yang memiliki lahan pertanian sempit (dibanding Indonesia) namun mampu mengoptimalkan hasil produksi pangan (khsusunya beras). Pemerintah seperti kurang serius dalam melakukan swasembada, terkesan sepele dalam menghadapi masalah pertanian. Hal ini dapat dilihat dari semakin sedikitnya lahan pertanian di Indonesia. Lahan pertanian (khususnya persawahan) yang semakin lama digantikan oleh pembangunan  lahan nonpertanian, seperti industri. Hal ini tentu bertentangan dengan tujuan swasembada pangan, dimana di satu sisi permintaan akan beras semakin banyak (jumlah penduduk yang bertambah)  namun lahan untuk memproduksi beras tersebut semakin sedikit, wajar saja produksi beras di indonesia semakin menurun karena semakin berkurangnya lahan pertanian.
Upaya berikutnya yang dapat diterapkan adalah meningkatkan teknologi. Vietnam dan Thailand mampu menemukan teknologi yang baik untuk mengahasilkan bibit unggul untuk meningkatkan produsktivitas pertanian. Selain itu sistem pertanian kita juga harus diperbaiki, semisal proses tanam bibit yang tadinya dilakukan pada pertengahan dan akhir tahun, maka kali ini dilakukan pada awal tahun atau setelah puncak musim hujan. Ahli pertanian mengutarakan bahwa penanaman bibit di awal tahun akan meningkatkan produktivitas pertanian dan meminimalisiri gagal panen. Regulasi terkait kepemilikan lahan juga harus menjadi sorotan pemerintah, karena kepemilikan lahan petani Indonesia sangat minim, hal ini akan mengurangi  kesempatan petani Indonesia dalam memproduksi beras. Masyarakat Inodonesia juga harus mampu didorong untuk tidak bertumpu pada nasi (beras) sebagai makanan pokok. Ketergantungan masyarakat terhadap beras terbukti dengan tidak kurang dari 90 % masyarakat menjadikan beras sebagai makanan pokok,  alternatif lain yang dapat diproduksi dalam jumlah besar seperti jagung dan  sagu yang tidak kalah nutrisinya dengan padi.

SUSUNAN KEPENGURUSAN KOMISARIAT GMNI GEOGRAFI UGM 2015/2016

Komisaris                             : Julio Adiputra Hutabarat

Sekretaris                              : Jultri Fernando Tobing

Bendahara                             : Agustina Pane

Wakombid Kaderisasi          : Aslama Nanda Rizal
- Biro Kajian                         : - Fiaruska Rivaldo
                                                - Prasetya Budi
                                                - Surya Hidayat
- Biro Sarinah                        : Annisa Intan K

Wakombid Organisasi          : Julian Fhermy Tambunan
- Biro Peng. Masyarakat       : Andri Hermansya
- Biro Taktis                          : - Abhi Putra
                                                - Naufan Silmi Lubis

Wakombid Media dan Pers   : Willy Alfarius
- Biro Media                          : Saujji Aria Ramadhan
- Biro Pers                              : Dipta Dwi


Anggota     : - Abdul Zaki
                      -Aldhi Wibowo
                     -Arya Syailendra
                     -Farida Siahaan
                     - Gama Prasasya
                      -Konta Lena Sinaga
                     - Lariski Munte
                     - Luthfi
                    - Megawati Siboro
                    - Priyas Haryadi

Friday, May 1, 2015

“SEKOLAH SOSIO-NASIONALISME” MENYAMBUT HARI PENDIDIKAN NASIONAL 2015


Oleh: Bung Aslam

Merdeka!!!
Hidup Mahasiswa Indonesia!!!
Hidup Rakyat Indonesia!!!

Saudara-saudara sekalian, setiap tanggal 2 Mei selalu diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional. 2 Mei adalah tanggal kelahiran tokoh yang sangat berjasa bagi pendidikan di Indonesia, Ki Hajar Dewantara. “Bapak Pendidikan Indonesia” tersebut memiliki nama asli Soewardi Soejaningrat dengan gelar Raden Mas. Ia lahir pada 2 Mei 1889 di Yogyakarta dan wafat pada 26 April 1959 juga di Yogyakarta. Ia diangkat sebagai Pahlawan Pergerakan Nasional oleh Presiden Soekarno dengan Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 305/ Tahun 1959, tanggal 28 November 1959.
Ia dianggap sebagai “Bapak Pendidikan Indonesia” karena banyak berkontribusi di dunia pendidikan nasional dengan mendirikan perguruan Taman Siswa pada 3 Juli 1922. Perguruan tersebut bercorak nasional dan menanamkan rasa kebangsaan dalam jiwa anak didik[1]. Hingga saat ini perguruan Taman Siswa masih kokoh berdiri dan berkembang dengan sangat baik di Kota Pendidikan, Yogyakarta.
Saya tidak ingin menulis biografi perihal Ki Hadjar Dewantara. Saya ingin mempertanyakan kepada saudara-saudara sekalian, apakah hari kelahiran Ki Hadjar Dewantara hanya diabadikan sebagai Hari Pendidikan Nasional semata? Apa hanya cukup dengan melaksanakan upacara bendera setiap tanggal 2 Mei, maka kita telah larut dalam euphoria-nya? Saya katakan, tidak! Sebagai Mahasiswa, kita tidak boleh larut dalam hal demikian.
Saudara-saudara sekalian, 2 Mei 2015 bertepatan dengan 126 tahun hari kelahiran Ki Hadjar Dewantara. 3 Juli 2015 nanti juga bertepatan dengan 93 tahun berdirinya perguruan Taman Siswa. Sudah tua. Ya. perjuangan Ki Hadjar Dewantara untuk mengubah pendidikan Indonesia menjadi lebih baik hampir berlalu seabad.
Hal tersebut menjadi refleksi bagi kita, bangsa Indonesia. Apakah bangsa kita telah benar-benar mengenyam pendidikan dengan baik? Apakah pendidikan di Indonesia telah merata? Apakah seluruh anak-anak kecil nan lugu di Papua sana telah menikmatinya? Apakah seluruh anak-anak Indonesia dari Sabang hingga Merauke telah menyicipi manisnya pendidikan dengan layak? Belum saudara-saudara sekalian! Jangankan di Papua, di Jawa pun masih banyak anak Indonesia yang belum bisa mengenyam pendidikan dengan layak. Bahkan, sekadar menyicipinya pun tidak bisa karena himpitan ekonomi.
Berbanding terbalik dengan kondisi di perkotaan dengan menjamurnya sekolah-sekolah swasta milik para Kapitalis yang diisi oleh para anak-anak orang kaya. Anak para Kapitalis. Anak Konglomerat. Anak-anak yang ditakdirkan oleh Tuhan untuk tersenyum riang karena kantong orang tuanya begitu tebal. Namun, di perkotaan juga masih banyak anak yang hanya bisa berlapang dada menerima takdir menjadi anak kaum Marhaen[2], anak si miskin. Terpaksa menjadi pemulung, terpaksa mengamen, bahkan dieksploitasi orang tuanya sendiri untuk menjadi pengemis. Itulah keadaan kaum miskin kota, saudara-saudara sekalian.
Dengan parafrase yang terkenal dari Ki Hadjar Dewantara yakni “Memanusiakan manusia”, pendidikan hendaklah menjadikan manusia seutuhnya. Dengan pendidikan, manusia dibentuk pengetahuan dan karakternya[3]. Pendidikan seharusnya menjadi senjata utama pembebas kaum Marhaen dari pemiskinan yang dilakukan oleh sistem yang menindas, yakni Kapitalisme, Kolonialisme, dan Imperialisme. Dengan pendidikan, seharusnya kita sebagai orang-orang yang berpendidikan membantu para Marhaen mendapat haknya di bidang pendidikan.
Permasalahannya, pendidikan saat ini sangat bernuansa Kapitalistik. Bahkan pendidikan secara tersirat terlah bertujuan melanggengkan cengkeraman Kapitalisme. Menurut Mastono, pendidikan bernuansa Kapitalistik memiliki dua tujuan utama. Pertama, untuk memproduksi para buruh siap kerja. Saudara-saudara sekalian, tidak dapat terelakkan bahwa saat ini universitas, sekolah, dan pendidikan non-formal, banyak yang mengarahkan para peserta didik menjadi lulusan yang berstandar dengan perkembangan Kapitalisme. Kedua, pendidikan dikondisikan untuk memaklumi Kapitalisme. Tidaklah mengherankan bahwa banyak mahasiswa hingga dosen saat ini menganggap Kapitalisme sebagai corak produksi yang alamiah[4].
Kita harus melawan hal tersebut, saudara-saudara sekalian. Oleh sebab itu, perlu dibangun pendidikan yang bernuansa Sosialistik. Pendidikan yang bertujuan untuk mencapai sila ke-5 Pancasila, keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Untuk mewujudkan hal tersebut, pemerintah sesegera mungkin harus mengusir seluruh Korporasi penghisap rakyat di Indonesia. namun, dengan mengharapkan pemerintah semata sangat mustahil tujuan tersebut tercapai. Selain berbagai tuntutan untuk pemerataan dan keadilan pendidikan bagi rakyat harus terus dilayangkan kepada pemerintah, kita juga harus memberi pendidikan kepada kaum Marhaen dari akar rumput.
Salah satu contohnya adalah Yayasan yang didirikan oleh Anies Baswedan, Indonesia Mengajar dengan gerakannya yakni Gerakan Turun Tangan. Terjun langsung memberikan pendidikan kepada kaum Marhaen di berbagai daerah pelosok di seluruh Indonesia. Selain itu, berbagai komunitas pengajar pun telah banyak berdiri. Kita harus menghargai hal tersebut dan harus ikut bergabung. Namun lagi-lagi, tanpa lenyapnya Kapitalisme dan Imperialisme Modern yang bernaung dalam Korporasi asing dan dalam negeri, mustahil pendidikan yang bernuansa Sosialistik dapat terlaksana.
Selain dengan usaha melenyapkan Kapitalisme dan Imperialisme Modern dari bumi Indonesia, perlu rasanya melanjutkan usaha Ki Hadjar Dewantara untuk menumbuhkan semangat kebangsaan dalam pendidikan. Oleh sebab itu, sekolah kebangsaan di Indonesia harus mulai didirikan dan diperbanyak jumlahnya. Saya memiliki gagasan untuk mendirikan sekolah kebangsaan yang berbasis Nasionalisme Soekarno.
Mengapa Nasionalisme Soekarno? Sebab nasionalisme a la Soekarno adalah Sosio-Nasionalisme. Bukan nasionalisme a la Perancis yang menjadi cikal bakal Kapitalisme. Bukan pula Nasionalisme a la Jerman, Italia dan Jepang di masa lalu yang Chauvinis & Fasis. Yang membunuh bangsa lain karena terlalu membanggakan bangsanya sendiri. Tapi Sosio-Nasionalisme, yakni Nasionalisme yang bersifat Sosialistik. Nasionalisme yang bertujuan untuk keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Nasionalisme yang berperikemanusiaan seperti Nasionalisme kata Mahatma Gandhi. Bung Karno sering berkata “Nasionalisme Indonesia adalah Taman Sarinya Internasionalisme”. Maksudnya adalah demi mencapai Internasionalisme yang bertujuan untuk keadilan sosial di seluruh dunia, perlu Nasionalisme Indonesia untuk keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Nasionalisme dalam pandangan Bung Karno dalah tahap awal untuk menuju Internasionalisme.
Hal tersebut perlu ditanamkan kepada seluruh rakyat Indonesia. Sosio-Nasionalisme, sebagai satu dari tiga bagian dari asas perjuangan buatan Bung Karno, Marhaenisme (Sosio-Nasionalisme, Sosio-Demokrasi, Ketuhanan Yang Berkebudayaan). Demi mewujudkan hal tersebut, perlu didirikan sekolah kebangsaan berbasis Nasionalisme Soekarno yang saya sebut sebagai “Sekolah Sosio-Nasionalisme”.
Memang terkesan utopis gagasan saya tersebut. namun bukan tidak mungkin hal tersebut dapat dilakukan, saudara-saudara sekalian. Semua keberhasilan di dunia ini bermula dari gagasan yang terjebak antara khayalan dan kenyataan. Bukan tidak mungkin suatu saat nanti “Sekolah Sosio-Nasionalisme” banyak berdiri di seluruh penjuru Indonesia.
Dengan penanaman kebangsaan tersebut dalam pendidikan, diharapkan anak-anak Indonesia akan berjiwa Sosialistik sebab sekolah dan universitas tempat mereka belajar juga bernuansa Sosialistik. Sehingga tujuan pendidikan dalam pemikiran Ki Hadjar Dewantara (memanusiakan manusia) dapat terwujud.

Merdeka!!!
Hidup Mahasiswa Indonesia!!!
Hidup Rakyat Indonesia!!!



[1] Team Penyusun Bahtera Jaya, “Album 90 Pahlawan Nasional”, Jakarta: Bahtera Jaya, 1985, hlm. 39
[2] Rakyat Indonesia yang dimelaratkan oleh Kapitalisme, Kolonialisme, dan Imperialisme. Istilah yang dipopulerkan oleh Bung Karno dan menjadi asas perjuangan buatannya, Marhaenisme.

[3] Mastono, Mahasiswa Fakultas Filsafat UGM 2011, Wakil Ketua Bidang Kaderisasi Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Yogyakarta, “Pendidikan yang Membebaskan Marhaen: Menyongsong GMNI Mengajar”, Yogyakarta: DPC GMNI Yogyakarta, materi diskusi menyambut Hari Pendidikan Nasional, 28 April 2015.
[4] Ibid,.

Sunday, December 21, 2014

22 Desember: Hari Ibu, Hari Pergerakan Wanita Indonesia

Diambil dari Blog Bung Aslam (Kaderisasi)

https://aslamanandarizal.wordpress.com/2014/12/22/22-desember-hari-ibu-hari-pergerakan-wanita-indonesia/


Setiap tanggal 22 Desember di Indonesia selalu diperingati sebagai Hari Ibu. Di media sosial, hari tersebut selalu menjadi trending topic. Namun banyak yang tidak mengetahui mengapa tanggal tersebut ditetapkan sebagai Hari Ibu. Pada 22-25 Desember 1928 diadakan Kongres Perempuan Indonesia yang pertama di Yogyakarta. Hari pembukaan kongres tersebut -22 Desember- ditetapkan oleh Presiden Soekarno pada 16 Desember 1959 sebagai Hari Ibu. Penetapan tersebut berdasarkan SK Presiden RI No. 316/1959. Kongres Pertama Indonesia yang pertama disebut sebagai titik awal pergerakan wanita Indonesia.

Melihat kondisi wanita Indonesia pada masa sekarang cukup memprihatinkan. Pergerakan wanita Indonesia saat ini seperti macan ompong. Para wanita dari kelas menengah ke atas banyak yang terlena dengan gemerlapnya dunia. Dari golongan sosialita, hingga remaja. Banyaknya pusat hiburan dan perbelanjaan di perkotaan  membuat para wanita semakin jauh dari nilai-nilai perjuangan yang dipelopori oleh R.A. Kartini yang diteruskan oleh Dewi Sartika, Rohana Kudus, dan lain-lain pada masa kolonial. Sementara para wanita dari kelas menengah ke bawah, masih banyak yang tertindas.
Berkali-kali media di Indonesia memaparkan kasus kekerasan terhadap pembantu rumah tangga yang kebanyakan wanita, tenaga kerja wanita (TKW) di luar negeri, dan buruh wanita terutama yang paling terkenal pada kasus Marsinah di penghujung masa Orde Baru. Seperti kata Soekarno, JAS MERAH: Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah. Memang benar. Di saat ramainya ucapan selamat Hari Ibu di mana-mana. Marilah kita mempelajari sejarah awal pergerakan wanita Indonesia. Hal tersebut menjadi refleksi bagi para wanita Indonesia saat ini untuk tidak melupakan perjuangan para Srikandi bangsa demi keadilan bagi wanita. Juga untuk menyadarkan bahwa 22 Desember bukan hanya Hari Ibu, tetapi Hari Wanita Indonesia.
Menatap 2015, pemerintah harus semakin memperhatikan nasib kaum wanita Indonesia yang tertindas. Dunia pergerakan wanita di Indonesia yang mati suridi masa Orde Baru dengan dominasi PKK & Dharma Wanita, harus digalakkan kembali. Propaganda mengenai pentingnya wanita di Indonesia untuk bergerak melawan ketidakadilan harus diperbanyak.  Perlu ada reformasi bagi organisasi-organisasi wanita di Indonesia saat ini.
SEJARAH PERGERAKAN WANITA INDONESIA
Pergerakan wanita Indonesia pada masa kolonial diawali dari perjuangan untuk meninggikan kedudukan sosial. Menurut A.K. Pringgodigdo, soal-soal politik seperti hak-pemilihan sama tidak menjadi perundingan, sebab kaum laki-laki pun tidak mempunyainya, soal kemerdekaan tanah air sama sekali masih jauh dari padanya. Bagi kaum wanita pada masa itu, paham tentang budi pekerti, keagamaan dan adat, masih menjadi rintangan tersebsar baginya untuk dapat bertindak jauh daripada apa yang dekat-dekat terletak didepannya saja. Hal pertama yang menggerakan kaum wanita untuk bergerak adalah masalah pernikahan dan hidup keluarga. Banyaknya kawin paksa, poligami, kekuasaan mutlak kaum laki-laki dalam pernikahan menyebabkan berontaknya kaum wanita.
KARTINI: PELOPOR KEBANGKITAN WANITA INDONESIA
Raden Ajeng (R.A) Kartini, yang telah dinyatakan sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional pada 1964, dan tanggal lahirnya masih dirayakan sebagai hari raya nasional, lahir pada 21 April 1879 dari keluarga yang bermadu. Ayahnya adalah Raden Mas Adipati Sosroningrat, Bupati Jepara. Ibunya adalah istri pertama Bupati itu tetapi secara sosial ibunya adalah istri kedua setelah garwa padmi atau istri pertama yang resmi. Ia dinikahi secara resmi, tetapi karena keturunan golongan rendah, hanya bisa menjadi garwa selir (istri simpanan)[1].
Pandangan umum berdasarkan buku-buku mengenai sejarah pergerakan wanita Indonesia menjelaskan bahwa Kartini adalah pelopor dari pergerakan tersebut. A.K. Pringgodigdo menganggap bahwa pergerakan wanita dalam permulaannya di masa kolonial adalah gerak dari seseorang yakni Kartini. Cita-cita Kartini semakin menyebar dan wanita-wanita Indonesia lain mulai ikut bergerak untuk maksud yang sama yakni pendidikan dan pengajaran untuk kaum wanita. Kartini dikenal sebagai pelopor emansipasi wanita Indonesia setelah rekannya seorang Kepala Departemen Pendidikan pemerintah kolonial sejak tahun 1900 –J.H Abendanon- pada tahun 1911 menerbitkan tulisan-tulisan Kartini yang merupakan surat-menyurat dengan dirinya berbahasa Belanda yang ia beri judul Door duisternis tot licht (Habis Gelap Terbitlah Terang).
Kartini sering dijadikan sebagai referensi utama bagi bangkitnya kesadaran kaum wanita Indonesia pada masa kolonial dan diikuti pada masa berikutnya hingga saat ini. Cora Vreede-De Stuers menyebut Kartini sebagai salah satu tokoh penting dari “para pelopor gerakan feminis”.  Kartini lahir di era transisi antara zaman feodal yang ditandai dengan corak ekonomi tanah (agraris) dan awal-awal bagi tumbuhnya industrialisasi modern, yang waktu itu didominasi industry perkebunan (cultuurstelsel)[2].
Pandangan Kartini yang universal tentang kaum wanita dan manusia telah menempatkannya sebagai tokoh yang memang layak diteladani oleh wanita modern saat ini. Berbeda dengan wanita saat ini yang begitu membanggakan diri akan zaman modern ketika struktur dan kultur pasar bebas (kapitalisme) memenjarakan mereka dalam gaya hidup satu dimensi. Kartini pada zamannya justru mempertanyakan tatanan feodal (kebangsawanan) yang mengungkungnya, yang membuatnya bertanya dan menggugat tradisi yang berkembang untuk memasung kemanusiaan[3]. Meskipun menentang poligami, namun Kartini tak kuasa menolak paksaan keluarga untuk menikahkannya dengan R.M. A.A. Djojohadiningrat, Bupati Rembang saat itu. Kartini meninggal setahun berikutnya, 1904, saat melahirkan anaknya.
Gagasan-gagasan Kartini menyebar begitu cepat dan menggerakkan kaum wanita Indonesia pada masa kolonial untuk mendobrak tatanan lama dalam masyarakat daerah. Semangat emansipasi wanita dan kesetaraan gender pasca wafatnya Kartini semakin tinggi di berbagai daerah di Hindia-Belanda. Tujuan utamanya adalah memberikan pendidikan dan pengajaran kepada kaum wanita agar tidak terbelakang dan selalu di bawah kekuasaan laki-laki. Pasca diberlakukannya politik Etis oleh pemerintah kolonial, banyak anak-anak bangsawan yang memperoleh kesempatan mendapatkan pendidikan. Hal tersebut membuat pemikiran orang-orang bumiputera semakin sadar untuk melawan penindasan yang ada. Pendidikan yang berbasis rasionalitas ala Barat, membuat rasionalitas para orang-orang bumiputera meningkat. Akibat pendidikan tersebut, muncul banyak organisasi orang-orang bumiputera dari berbagai kalangan yang didirikan hampir berbarengan. Di awali dari Budi Utomo yang berdiri pada 20 Mei 1908, hari tersebut kelak dijadikan sebagai Hari Kebangkitan Nasional.
Pada tahun 1912 berdiri organisasi wanita pertama di Hindia-Belanda bernama Putri Mardika. Organisasi yang didirikan dengan bantuan Budi Utomo tersebut bertujuan memajukan pengajaran anak-anak perempuan. Setahun berikutnya pada berdiri organisasi Keutamaan Istri yang didirikan Dewi Sartika. Bertujuan untuk mengadakan rumah-rumah sekolah untuk anak-anak perempuan. Pada tahun tersebut pula berdiri badan-badan untuk mengadakan sekolah-sekolah Kartini. Selain itu, terdapat pula perkumpulan-perkumpulan kaum ibu yang memajukan kecakapan wanita seperti menjahit, memasak, memelihara anak, dan sebagainya. Di antaranya adalah Pawiyatan Wanito di Magelang, Wanito Susilo di Pemalang, Wanito Hadi di Jepara, dan lain-lain. Menurut A.K. Pringgodigdo dalam bukunya Sedjarah Pergerakan Rakjat Indonesia, karakter dari perjuangan wanita pada masa awal pergerakannya di masa kolonial adalah gerakan perbaikan kedudukan dalam pernikahan, hidup keluarga, dan kecakapan sebagai seorang ibu. Gerak wanita pada masa ini tidak saling menyerang dan dengan pelan-pelan. Pergerakan tersebut pada masa ini tidak bersifat politis, menyerang golongan Islam yang tidak menolak poligami, laki-laki, dan pemerintah kolonial.
Organisasi-organisasi wanita pada masa Hindia-Belanda tersebut menjadi politis baru terlihat pada sekitar tahun 1920-an, ketika organisasi-organisasi seperti Sarekat Islam, Muhammadiyah, Taman Siswa dan lain-lain memiliki divisi khusus wanita. Pada periode tersebut (1920-an) pula muncul sejumlah bentuk protes yang terorganisasi pertama melawan masalah semacam pelacuran dan perdagangan perempuan. Menurut Petrus Blumberger, di Jawa Barat perhimpunan perempuan seperti Maju Kemuliaan di Bandung dan Hati Suci, bersuara tegas melawan kejahatan tersebut.
KONGRES PEREMPUAN I: TONGGAK AWAL PERGERAKAN WANITA INDONESIA
Kongres Perempuan Indonesia yang pertama diadakan pada 22-25 Desember 1928 di Yogyakarta. Dihadiri oleh 30 perkumpulan wanita. Diantara pendorong-pendorong kongres tersebut adalah Putri Indonesia, Wanito Katolik, Wanito Mulyo, Wanito Utomo, Aisyiyah, Jong Islamieten Bond bagian wanita, Sarekat Islam bagian wanita, Jong Java bagian wanita, dan Wanita Taman Siswa. Kongres tersebut dipimpin oleh Nyonya Soekonto. Dalam kongres tersebut diambil keputusan: mendirikan Badan Permufakatan perkumpulan-perkumpulan wanita dengan nama Perikatan Perhimpunan Perempuan Indonesia (PPPII) yang bertujuan untuk memberi penerangan dan perantaraan kepada perkumpulan yang tergabung di dalamnya. PPPII akan memberikan dermasiswa / beasiswa untuk anak-anak perempuan yang pandai dan tidak mampu, mengadakan kursus-kursus tentang kesehatan, memberantas pernikahan anak-anak, dan memajukan kemajuan untuk anak-anak perempuan[4].
Dalam kongres tersebut juga terjadi kesepakatan untuk membuat tiga mosi kepada pemerintah kolonial, yakni menambah sekolah untuk anak-anak perempuan, pemberian keterangan ta’lik pada waktu nikah, mengadakan peraturan untuk menyokong janda-janda dan anak-anak piatu pegawai negeri Hindia-Belanda. Seperti yang telah dijelaskan di awal tulisan ini, hari pembukaan kongres tersebut, 22 Desember (1928), ditetapkan oleh Presiden Soekarno pada 16 Desember 1959 sebagai Hari Ibu. Penetapan tersebut berdasarkan SK Presiden RI No. 316/1959. Itulah yang dikenal sebagai Hari Ibu saat ini. Sejatinya, 22 Desember bukan hanya Hari Ibu, tetapi juga Hari Pergerakan Wanita Indonesia.
[1]  Saskia Eleonora Wieringa, Hesri Setiawan (penerjemah), Penghancuran Gerakan Perempuan di Indonesia, 1999, Jakarta: Garba Budaya dan Kalyanamitra, hlm. 98-99
[2]  Nurani Soyomukti, Perempuan di Mata Soekarno, 2009, Yogyakarta: Garasi, hlm. 30
[3]  Ibid., hlm 32
[4]  Nani Suwondo, Kedudukan Wanita Indonesia Dalam Hukum Masyarakat, 1981, Jakarta: Ghalia Indonesia, hlm.171-172

Thursday, December 4, 2014

Mencintai Indonesia (Untuk anak cucu kami)



Mencintai Indonesia
(Untuk anak cucu kami)
Satu alasan,,
Betapa negeri ini terlalu indah untuk dibenci
Sungguh keberagaman menjadi hal mutkak
Identitas bangsa yang dibangun diatas persamaan nasib
Ukiran semangat dan kerja keras menjadi kebanggaan setiap insan
Keindahan setiap lekuk tubuh ibu pertiwi
Memebentuk kegamuman kami terhadap sang Khalik
Dari kami yang mencintai bangsa dan tanah surga ini
Bukankah banyak masalah?
Benar  nak, banyak masalah, teramat banyak untuk dihitung
Adalah mereka yang tidak mencintai bangsa ini penyebabnya
Usirlah mereka nak dari peradaban sejarah
Para perusak....
Suatu hari kelak ...
Akan ada senyum yang menghiasi setiap langkah tegapmu nak
Ceritakanlah, ceritakanlah nak betapa kami bangga
Kami bangga di dilahirkan di tanah yang kau injak sekarang
Damai dan tenang tidur diatas awan keberagaman
Ceritakanlah kepada anak cucu nanti nak
Betapa sudah lamanya kami mencari alsan untuk membenci bangsa ini
Ceritakanlah,ceritakan nak
Betapa banyaknya sampah di negara ini
Tapi ceritakanlah pula betapa kami mencoba pungut  satu persatu
Ceritakan juga betapa banyaknya borok di setiap lekuk tubuhnya
Kami coba obati dengan sebisa kami
Wariskanlah nak, wariskanlah kecintaan kami ini
Suatu hari nanti kau akan tahu
Betapa Semua itu adalah kebenaran nak
Saat semilir angin telah berhenti mengaliri darahmu