Tuesday, June 23, 2015

CINTA DALAM BELENGGU FEODALISME

Oleh: 
Bung Aslam (Wakil Komisaris Bidang Kaderisasi)

               Jean, remaja 15 tahun yang baru saja kehilangan orangtuanya meninggal dengan jarak berdekatan. Sebulan setelah ibunya meninggal, ayahnya menyusul ke pangkuan Tuhan. “Oh Bapa di Surga, Oh Tuhan Yesus, Oh Roh Kudus, Eli.. Eli.. Lama Sabaktani (Tuhanku, mengapa kau tinggalkan aku?)”. Gumam Jean tatkala mengetahui ayahnya meninggal.
            Sejak itu, tekad kuat untuk bertahan hidup laksana darah yang mengalir dalam tubuh Jean. Tekad kuat itu tak terpisahkan dari jiwanya. Jiwa seorang remaja sebatang kara yang pada akhirnya, mencambuknya tatkala ia lemah, tatkala ia berputus asa, tatkala ia tiada memiliki semangat menjalani hidup. Tekad kuat itu laksana bayangan kedua orangtuanya, yang selalu menghantui Jean kemanapun ia melangkah.
            Jean bekerja pada Tuan Jacob, seorang konglomerat yang sangat terkenal di kotanya. Tuan Jacob berusia 70 tahun. Tanah dan bisnisnya dimana-mana. Keluarganya yang menjalankan dan meneruskan usahanya. Jean dengan rela hati membanting tulang menjadi petani di sana. Puji Tuhan, Jean tak sendiri. Ia bekerja bersama puluhan orang lainnya yang terpaksa menjadi petani demi menghidupi kebutuhan keluarganya. Siang hari, para petani diizinkan beristirahat sejenak sebelum melanjutkan pekerjaannya kembali.
“Siapa namamu, anak manis?” tanya Olivier, seorang petani berusia 40 tahun yang telah dua puluh tahun mengabdi untuk keluarga Tuan Jacob.
“Jean. Jean Alexandre. Bapak?”
“Saya Olivier. Olivier Boumsong. Kamu panggil saya Pak Olive saja”.
“Iya, Pak Olive. Sudah lama bapak bekerja di sini?”
“Sudah dua puluh tahun. Dari saya remaja sepertimu sampai berkeluarga dan memiliki tiga orang anak, saya mengabdi pada keluarga Tuan Jacob. Semua ini demi bertahan hidup sebab saya hanyalah orang miskin. Kamu baru bekerja di sini ya, Nak? Berapa usiamu saat ini?”
“Lama sekali, Pak. Iya,ini hari pertama saya kerja di sini. Beberapa waktu yang lalu kedua orangtua saya meninggal dunia. Saya anak tunggal. Saya menjadi sebatang kara. Karena itu, saya mencari pekerjaan untuk bertahan hidup. Sama seperti bapak, saya orang miskin. Saya baru berusia 15 tahun”
“Wah….”.
“Waktu istirahat sudah habis. Cepat lanjutkan pekerjaan kalian! Cepat!”. Belum sempat Pak Olive melanjutkan pembicaraannya, seorang pegawai kelas atas di keluarga Tuan Jacob laksana mandor berteriak lantang kepada seluruh petani. Orang itu bernama Pierre, asisten keluarga Tuan Jacob.

***

            Sepuluh tahun Jean bekerja pada keluarga Tuan Jacob, menggarap tanahnya. Bersama puluhan petani lainnya, mereka menyulap tanah menjadi hasil bumi yang menggiurkan. Namun, mereka hanya bisa memandangi elok rupa dari hasil bumi tersebut. Sebab keluarga Tuan Jacoblah yang berhak menerima hasil bumi dari tanah itu. Para petani hanya diberikan upah. Mereka boleh menggarap tanah mereka sendiri jika punya. Namun, sebagai konsekuensinya sebagian hasil bumi dari tanah mereka sendiri dikenakan pajak oleh keluarga Tuan Jacob.
            Kini Jean berusia 25 tahun. Jean telah tumbuh menjadi lelaki dewasa yang amat tampan. Di usia yang cukup matang tersebut, ia belum menikah. Jean belum menemukan wanita yang tepat, yang mau hidup bersama dalam nuansa kesederhanaan.
            Tuan Jacob pun semakin senja. Usianya kini 80 tahun. Ia memiliki seorang cucu yang sangat cantik jelita, bernama Felicia. Putri dari Mathieu, putra sulung Tuan Jacob, pewaris tahta utama dari seluruh usaha keluarga Tuan Jacob. Felicia seusia dengan Jean, 25 tahun. Tatkala Jean pertama kali menjadi petani, Felicia sedang menghabiskan masa mudanya di luar kota. Di tempat pamannya yang bernama Sebastian. Mathieu yang menitipkan di sana sejak Felicia berusia 10 tahun.
Kini lima belas tahun berselang. Felicia kembali ke kampung halamannya. Felicia sangat cantik, anggun, dan berbudi pekerti luhur. Jauh dari watak keluarganya yang tamak, dibanjiri keangkuhan yang menjulang ke angkasa.
            Suatu saat, Felicia berkeliling pekarangan rumah, suatu aktivitas yang tiap hari ia lakukan. Ia menyaksikan dengan mata telanjang bahwa para petani tengah bertumpah peluh dan dahaga menggarap tanah keluarganya. Rasa tak tega menyelimuti hatinya. Sesekali ia menyapa para petani dan menebarkan semangat pada mereka. Dan dengan nekatnya ia sering membawakan minuman untuk para petani. Durhaka pada Orangtua versi keluarga Tuan Jacob. Siang itu, tiba waktu untuk istirahat bagi para petani. Jean duduk seorang diri. Ia meluruskan kakinya yang pegal dan berkali-kali mengelap peluh dengan kausnya yang kusam.
“Permisi, selamat siang. Tetap semangat ya. Ini ku bawakan minuman untukmu. Bolehkah aku duduk di sampingmu?”. Felicia berkata pada Jean. Rupanya Felicia tiap hari memantau Jean. Ia sering memperhatikannya dari jauh, namun tak berani menyapa. Felicia terpesona dengan ketampanan Jean. Berhari-hari sampai akhirnya ia memberanikan diri mendatangi Jean.
“Silahkan. Terimakasih sekali. Kamu siapa? Aku belum pernah melihatmu sebelumnya”. Jawab Jean sekaligus bertanya dengan muka penasaran yang tak terbendung.
“Aku Felicia. Felicia Marie. Panggil saja aku Fely. Kamu?”
“Aku Jean. Jean Alexandre. Apa kamu bekerja di sini juga? Aku tak pernah melihatmu sebelumnya. Memang aku tak mengenal seluruh petani di sini. Terlalu sibuk mengurusi tanah Tuan Jacob yang luas ini sampai aku tak sempat bersosialisasi dengan sesama petani”
“Hehehe. Luar biasa dirimu, Jean. Perkenalkan, aku cucu Tuan Jacob”
“Apa??? Oh, Tuhan. Aku tak boleh berada di sini. Aku harus pergi. Aku tak boleh bercengkerama denganmu. Nanti aku bisa dimarahi Pak Pierre. Aku bisa dilaporkan pada ayah dan kakekmu. Aku tak pantas berada di sampingmu. Aku hanya petani yang bekerja untuk keluargamu”
“Tenang saja. Tak usah dirimu berpikir dan berkata seperti itu. Aku memang baru beberapa hari ini di sini. Aku baru pulang. 15 tahun aku tinggal bersama pamanku, kini aku pulang ke rumahku. Aku tak bersifat seperti keluargaku. Aku sangat miris melihat kalian, para petani. Tiap hari aku selalu berkeliling melihat kalian. Sebenarnya itu hanya alasanku untuk bisa menemani kalian. Sekedar menebar senyum dan semangat serta memberi minum. Jangan khawatir ya, Jean”. Jawab Felicia dengan senyum manisnya yang semakin menarik kecantikannya yang tiada tara.
“Tapi…..”
“Tak usah tapi-tapi. Ini, minumlah!”
“Aku takut….”
“Takut karena aku atau takut mati kehausan? Sudah, minumlah”.
“Terimakasih, Tuan Fely”
“Tak usah kau panggil diriku tuan. Sudah ku bilang, panggil saja aku Fely!”
“Baik. Terimakasih, Fely”. Jawab Jean menggigil ketakutan sambil menenggak minuman yang diberikan Felicia.
“Jean, berapa usiamu? Ku lihat dirimu masih begitu muda. Dimana dirimu tinggal?”
“25 tahun, kamu? Aku tinggal di kampung Strelliaue. Rumahku berwarna merah, gubuk terkecil di sana”
“Wah.. sama. Aku pun 25 tahun. Oh, kamu sudah menikah?”
“Ah, kamu ini menghina diriku saja. Mana ada yang mau dengan pemuda sepertiku ini? Aku hanya seorang petani miskin. Kau kan tahu, banyak wanita yang diperistri oleh para tuan tanah. Pola pikir wanita zaman sekarang telah berubah. Jikalau ingin hidupnya membaik, dipersunting tuan tanah adalah pilihan yang tak bisa ditolak”
“Kau kan tampan, berbudi pekerti tinggi lagi. Pak Olive sudah menceritakan padaku tentang dirimu. Hehehe”
            Tiba-tiba Pak Pierre datang dan berteriak lantang pada mereka berdua. Rupanya ia telah memantau gerak-gerik Felicia beberapa hari ini. Semenjak Felicia pulang, Pak Pierre ditugasi ayahnya Felicia untuk memantau putrinya yang Mahajelita itu.
“Felicia! Sedang apa kau di sini? Wah.. Kurang ajar kau, Jean. Petani berani-beraninya mengganggu putri tuan tanah. Lancang kau!” Seketika Pak Pierre menampar muka Jean hingga warna merah terlukis di pipi Jean.
“Om Pierre! Anda yang kurang ajar! Jean tengah beristirahat seorang diri di sini. Aku yang mendatanginya. Ku berikan minuman padanya karena ia kehausan. Dan aku yang membuka obrolan dengannya”
“Fely, saya hanya diberi tugas oleh ayahmu untuk memantaumu. Gerak-gerikmu dinilai ayahmu mencurigakan. Maka saya disuruh untuk mengawasimu. Sekarang pulanglah!”
Sambil menggenggam tangan Felicia sekuat tenaga, Pak Pierre menarik paksa dan membawa Felicia pulang ke rumah.
“Cepat kembali bekerja! Waktu isitirahat telah usai. Jangan ada yang berani kurang ajar atau saya pecat!” teriak Pak Pierre hingga terdengar ke seluruh telinga para petani.
Jean hanya terdiam dan kembali bekerja.
            Dua bulan lamanya Felicia dikurung di rumah. Ia dalam pengawasan ketat. Terpenjara dalam rumahnya sendiri. “Jikalau ku tahu akan seperti ini lebih baik tak pulang saja. Lebih baik ku tetap tinggal di rumah paman”. Gumam Felicia. Setelah dua bulan, ia ‘dibebaskan’. Ayah dan ibunya iba melihat putri cantiknya yang tak kuasa menahan kesedihan selama dua bulan lamanya. Akhirnya Felicia diberi izin untuk bebas berkeliaran ke luar rumah tanpa pengawasan Pak Pierre.
            Kesempatan itu tak disia-siakan oleh Felicia. Sudah dua bulan lamanya ia merindukan Jean. Ternyata, Tuhan memang Mahaindah. Dengan keindahan-Nya, Jean memiliki perasaan yang sama dengan Felicia. Keduanya saling jatuh cinta. Namun Jean sangat tak kuasa. Bahkan untuk sekedar memandangi kecantikan wajah Felicia yang tak kuasa dicegah, Jean tak mampu. Jean sadar, ia hanya petani. Sedangkan Felicia, putri tuan tanah. Putri majikannya.
Dengan rindu yang tak terbendung, Felicia nekat mendatangi rumah berwarna merah laksana gubuk itu, di kampung Strelliaue. Ya, rumah Jean. Felicia pergi ke sana di waktu yang tepat, tatkala senja baru saja disantap oleh keperkasaan malam. Tatkala Jean telah pulang ke rumahnya. Setelah bekerja seharian, Jean mandi dan makan malam di dalam gubuknya. Seorang diri, suatu kondisi yang sudah biasa menyelimutinya.
“Permisi. Selamat malam, Jean”
(Jean membukakan pintu)
“Astaga, untuk apa kau kemari? Jangan membuatku takut. Aku tak punya pekerjaan lagi. Apa kau tega jikalau aku dipecat?”
“Tak perlu cemas, Jean. Aku sudah bebas. Aku dikurung dua bulan di rumahku sendiri. Ayah dan ibu akhirnya terbuka mata hatinya. Mereka membebaskanku serta menjamin tak ada yang mengawasiku lagi. Bolehkah aku masuk?”
“Ya, silahkan”
Di dalam rumah Jean, mereka berbincang-bincang sampai tengah malam datang menjelang. Bak suatu negeri yang dianugerahkan hujan setelah sekian lama tak turun hujan. Mereka saling merindu. Perbincangan hangat itu melepaskan jeratan kerinduan mereka. Namun Jean tetap tahu diri, sadar bahwa ia tak pantas untuk Felicia.
“Felicia, sudah saatnya kau pulang. Sudah terlalu malam. Nanti orangtuamu khawatir. Nanti aku yang dicurigai karena kepulangan larutmu ini”
“Iya, aku pulang ya. Terimakasih sudah menemaniku. Sebelumnya, aku ingin berpesan padamu. Genggam eratlah terus pesan ini sampai kau mati. Jean, jikalau suatu saat nanti Tuhan memberimu izin untuk terbebas dari belenggu kemiskinan, jikalau suatu saat nanti kau menjadi kaya raya, jangan biarkan keangkuhan tumbuh dan menetap dalam hatimu. Tetaplah rendah hati. Jikalau suatu saat nanti nasibmu terbalik, kau yang menjadi tuan tanah, maka jangan kau siksa para petani”. Ujar Felicia, kemudian ia pulang.

***

            Suatu hari, Tuan Willard, rekan Tuan Jacob sesama konglomerat tengah sakit keras. Berbagai tabib telah didatangkan namun tak berhasil menyembuhkan. Tuan Willard pun belum putus asa. Ia percaya kekuatan magis bisa menyembuhkan. Kekuatan magis yang diinginkan Tuan Willard bukan mantra, bukan jin, dan sebagainya. Tetapi puisi cinta romantis yang dapat meluluhkan hatinya. Ia percaya demikian sebab istirnya yang sudah meninggal, tatkala masih hidup adalah seorang penyair dan pembuat puisi cinta romantis yang cukup terkenal di kotanya. Biasanya setiap sebelum tidur, Tuan Willard sering dibacakan puisi cinta romantis oleh mendiang istrinya. Maka Tuan Willard mengadakan sayembara, barangsiapa yang mampu mengobati sakitnya dengan puisi cinta romantis untuknya, maka akan diberikan seperempat tanahnya dan berhak menjadi tuan tanah di sana. Tanah Tuan Willard sangat luas, bahkan lebih luas dari tanah Tuan Jacob.
            Ratusan orang banyak yang mengikuti sayembara itu, namun semuanya gagal. Sementara sakitnya Tuan Willard semakin parah. Kesempatan untuk menjadi kaya raya ini tak disia-siakan Jean. Ia sejak kecil memang hobi menulis puisi. Tulisan-tulisannya tersimpan rapi di gubuk merahnya. Ia hanya menjadikannya sebagai koleksi pribadi. Karena puisi adalah penghibur hati tatkala ia tengah kehilangan gairah kehidupan. Jean pun menulis berbait-bait puisi cinta romantis. Setelah jadi, ia mendatangi keluarga Tuan Willard untuk menyerahkan puisinya.
            Dalam kondisi sakit yang parah, Tuan Willard tetap yakin bisa sembuh dengan puisi cinta romantis. Ia tetap berusaha membaca seluruh puisi yang dikirimkan kepadanya. Tatkala membaca puisi karya Jean, ia bergumam, “Aduhai, betapa indahnya puisi ini. Mengingatkanku pada istriku tercinta”. Berkali-kali ia baca puisi tersebut, semakin tersenyumlah ia, semakin rianglah hatinya, semakin bersemangatlah jiwanya, semakin tak terasa sakitnya. Dan akhirnya, sembuhlah ia. “Ini dia pemenang sayembara yang ku janjikan. Umumkanlah bahwa ia pemenangnya, dan berhak menerima seperempat tanahku”. Perintah Tuan Willard pada keluarganya.
            Sayembara pun diumumkan. Jean tak kuasa membendung derasnya rasa bahagia dalam hatinya. Nasib Jean berubah total. Ia menjadi tuan tanah. Ia menjadi konglomerat dadakan. Ia pun berhenti sebagai petani di keluarga Tuan Jacob. Setelah berkemas dan meninggalkan Strelliaue, ia berpamitan pada keluarga Tuan Jacob dan seluruh petani yang bekerja di sana. Termasuk Pak Olivier, yang kini telah berusia 50  tahun. Lalu ia pergi menuju Volxemau, tempat dimana Tuan Willard tinggal. Keluarga Tuan Jacob awalnya tak kuasa menahan ketidakpercayaannya, bahwa Jean, yang telah 10 tahun mengabdi pada keluarga Tuan Jacob kini setara dengan mereka. Tuan Jacob beserta seluruh anggota keluarganya meminta maaf atas perlakuan terhadap Jean selama mengabdi pada mereka. Pak Pierre pun tersipu malu, dirinya teringat pernah menampar Jean. Namun dengan budi pekertinya yang tinggi, Jean memaafkan segala perlakuan keluarga Tuan Jacob, termasuk Pak Pierre. Ia pun berpamitan pada Felicia dengan wajah sumringah. Felicia bahagia bercampur takut. Ia takut sifat Jean akan berubah menjadi rakus dan angkuh.
            Jean pun menjadi tuan tanah yang baru. Ia berhasil merekrut banyak petani yang terpesona olehnya. Cerita tentangnya menyebar ke penjuru kota. Ia dikenal bak pangeran dalam dongeng yang mampu membangunkan seorang putri yang tertidur lama sekali dengan kecupannya. Ia pun teringat dengan pesan yang disampaikan Felicia. Tetaplah rendah hati. Jean laksanakan itu. Ia tetap rendah hati. Bahkan para petani yang bekerja di sana menjadi sejahtera. Mereka diberikan modal untuk menggarap tanah mereka sendiri jika punya, tanpa dipungut pajak oleh Jean.
            Dengan status sosialnya yang telah jauh meningkat, Jean memberanikan diri untuk mempersunting Felicia. Ia mendatangi rumah kediaman keluarga Tuan Jacob. Alangkah senangnya hati Jean, ia diterima baik di keluarga itu dan lamarannya pun diterima. Wajar memang, dengan keangkuhan mereka, keluarga Tuan Jacob bisa menerima. Lain halnya jikalau Jean melamar Felicia dalam keadaan sebagai petani. Tentu penolakan, cacian, bahkan pemecatan tak akan ragu dilakukan keluarga Tuan Jacob. Setelah mendapat persetujuan keluarga, Jean pun berbincang dengan Felicia.
“Fely, maukah dirimu menjadi istriku? Menjadi ibu dari anak-anakku kelak. menjadi permaisuriku. Aku mencintaimu”
“Kau masih ingat pesanku, Jean?”
“Masih dan sedang ku lakukan semua pesan yang kau sampaikan di rumahku waktu itu”
“Baik, aku menerima cintamu. Aku mau menjadi permaisurimu. Aku rela hati menjadi Nyonya Jean Alexandre. Karena kau tahu? Aku mencintaimu sejak pertama kali kita bertemu”
“Aku juga mencintaimu sejak pertama kali kita bertemu, Felicia. Jikalau karena eloknya parasmu, maka bukan itulah alasannya. Tetapi sapaanmu, tawaran airminum darimu, dan obrolan pertama kita, bahkan dengan nekatnya kau datangi rumahku…. Itulah alasannya. Ya, Felicia. Aku sangat mencintai kesederhanaanmu”
            Mereka pun menikah. Sungguh bahagia bukan kepalang bagi mereka berdua. Jean luar biasa. Tekad kuat, kerja keras, dan semangat bertahan hidup menempanya menjadi seorang pemuda yang kuat secara jiwa dan raga. Jean tak menyangka, dirinya akan sangat beruntung di masa depan setelah di masa lalu ia ditinggal kedua orangtuanya di usia belia, lalu sepuluh tahun berikutnya menjadi petani miskin. Puisinya mengantarkan Jean menuju singgasana hati Felicia yang diikat secara sah dalam pernikahan.
Ya. Jean dan Felicia adalah korban.

Cinta dalam belenggu Feodalisme!

No comments:

Post a Comment